Cappadocia Dari Atas Awan – Part 19

Turkey

Kami meninggalkan kota Tabriz, Iran untuk menuju Turkey sudah sore menjelang malam. Rencana semula kami akan keluar Iran lewat Bandar Abbas untuk masuk middle east. Tapi karena masalah dengan shipping Cappuccino dari middle east ke East Africa (yang semula 20 hari berubah menjadi hampir 40 hari karena ganti provider dari Iran), jadilah kami rubah dari plan A jadi plan B, Iran – Turkey – Egypt.

Dalam situasi saat ini tak banyak pilihan bagi kami, karena visa Iran kami sudah habis esok harinya. Jadi mesti jalan malam. Rencana yang hanya 2.5 minggu di Iran akhirnya menjadi 1 bulan penuh.

Tiba di border sudah tengah malam. Border tertutup pagar, terpaksalah kami tidur persis di depan gerbang border. Tidak berani buka rooftop tent, kami tidur berjejal di dalam Cappuccino seperti saat di Zorkul Lake.

Pagi, saat border sudah buka kami orang pertama yang masuk. Sejumlah anak-anak berusaha membujuk kami untuk mau menggunakan jasa mereka sebagai fixer. Antara kesal dan tak tega, karena mereka lumayan pushy dan annoying. Jika kami gunakan jasa mereka, maka sangat tidak mendidik untuk kedepannya.

Di border kami baru menyadari bahwa selama sebulan di Iran kami tidak menggunakan asuransi mobil, saat petugas meminta dokumen dan kurang berkas asuransi. Saat masuk Iran, kami begitu tegangnya, khawatir cappuccino tak bisa masuk Iran (saat apply visa sudah dijelaskan tidak boleh menggunakan mobil masuk Iran), sehingga lupa mengurus asuransi yang biasa ada di border. Petugas carnet juga sedang off, petugas pengganti kurang paham, biasanya pihak petugas akan meminta bukti asuransi. Jadilah bagian ini terlewat dan baru sadar saat keluar 😅😅. Padahal biasanya orang bisa beli asuransi langsung Iran dan Turkey.

Untuk keluar Iran tidak masalah, tapi sebegitu masuk Turkey, ini menjadi masalah besar karena pas uang cash kami habis (sengaja kami habiskan saat akan keluar Iran). Sementara untuk masuk Turkey mesti bayar asuransi dengan uang cash. Di data kami mestinya ada ATM di border Turkey, ternyata border yang kami ambil salah. Maklum nyetirnya malam.

Pilihannya masuk Iran lagi dan masuk dari border yang berbeda yang ada ATM-nya di border. Petugas border di Iran begitu baiknya, mereka mengijinkan kami untuk masuk lagi dan membatalkan stamp keluar, namun menyarankan sebaiknya tetap maju ke Turkey karena border lainnya berjarak cukup jauh, lebih dari 100 km dan jika antri khawatir tidak terkejar keluar Iran di hari yang sama. Lebih baik jual barang yang pasti disukai di Iran terlebih sejak embargo mereka sulit dapat barang bagus. Perlu diketahui, selama di Iran kita tidak bisa menggunakan kartu kredit dan juga tarik uang di ATM. Di sana ada ATM, tapi tidak connecting dengan ATM international (karena Iran terkena embargo sehingga boleh dibilang terisolasi dari products western).

Ide petugas tsb cukup aneh, tapi masuk akal. Kami coba cari barang yang bisa kami jual, tapi tidak ada. Semua barang yang kami bawa dibutuhkan dan sudah sangat minimalis, repot belakangannya jika kami jual 😅😅.

Petugas border Iran tetap berusaha membantu kami, dia pun mencarikan orang lain yang akan melintas dan menyarankan kami untuk meminjam dari orang tsb.

Dalam 10 menit, langsung dapat orang yang bersedia, kami janjikan akan bayar segitu lewat border dan menemukan ATM. Alhamdullillah… Kebayang kalau gak bisa, kena overstay deh.

Van

Kota pertama di Turkey adalah Van, kebetulan orang yang membantu meminjamkan uang pada kami memiliki hotel di Van, jadilah kami menginap di Van.

Van merupakan kota urban yang menarik dengan danaunya yang indah dan fort-nya yang cantik terletak di atas bukit dengan pemandangan langsung ke danau. Rencana hanya semalam di Van, berubah menjadi 3 hari 😍😍.  Banyak tempat menarik yang sayang jika dilewatkan.

Fort Van yang merupakan highlight kota ini dibangun dari bebatuan cadas sejak 9 – 7 SM. Masuk kawasan ini meskipun menanjak, tetap terasa nyaman, jalan ke atas dibuat rapi. Banyak titik cantik untuk berfoto dengan pemandangan yang waaah. Tiba di bagian paling atas, pemandangannya benar-benar breathtaking. Terlebih kami sengaja naik menjelang sore, sehingga dapat sunsetnya yang wow.

Sanliurfa

Dari Van, perjalanan kami lanjutkan ke Sanliurfa, untuk mengunjungi desa yang rumahnya dibangun dari tanah. Namun setelah sampai di Sanliurfa, rencana menginap di sana berubah sebegitu melihat betapa komersialnya tempat ini. Sejumlah bus stop menurunkan ratusan orang, berfoto dengan baju tradisional yang bisa disewa dengan terburu-buru dan langsung cabut lagi. Lumayan mengganggu kenyamanan karena serasa diserbu penggila selfie 😂😂. Lebih asyik berjalan-jalan di old marketnya dan bisa berpapasan dengan berbagai etnik menarik yang menetap di Sanliurfa, seperti Turkish, Kurdish, Armenian dan Arab. Sebenarnya saya dan Eelco ingin mampir ke kastilnya juga, namun anak-anak protes. Karena merasa sudah cukup melihat kastilnya, mereka lebih memilih berkali-kali main di playground daripada mengunjungi berbagai kastil.

Cappadocia

Dari Urfa, kami langsung ke Cappadocia, anak-anak sudah tidak sabar untuk naik balon udara. Di Cappadocia kami menginap Di cave hotel dengan teras yang luas sehingga bisa menyaksikan balon beterbangan di pagi hari. Sayangnya cuaca tidak mendukung. Setiap Hari, bookingan kami untuk balon terbang di pending terus karena cuaca kurang mendukung (angin di ground level melewati batas aman terbang). Jadilah kami bertahan terus di Cappadocia hingga 6 hari menunggu sampai bisa terbang. Anak-anak tidak bisa dibujuk untuk membatalkan terbang menggunakan balon.

Sambil menunggu, untungnya banyak kegiatan yg bisa kami lakukan di Cappadocia, mulai dari mengajak Cappuccino menjajal rute-rute keren yang membutuhkan 4×4, ATV ke titik-titik menarik Cappadocia serta mengunjungi kota bawah tanahnya yang sangat unik.

Dan saat yang ditunggu anak-anak untuk mencoba balon terbang pun tiba.

Sore hari sebelumnya, kami diberitahu pihak hotel (kami pesan lewat resepsionis hotel elite Cappadocia yang kebetulan pilot balon terbang juga) bahwa cuaca untuk esok hari aman untuk terbang. Sejak malam anak-anak sudah bersiap dan nyaris tidak mau tidur karena diberi tahu bahwa akan dijemput pkl 5.30 pagi.

Standard setelahnya kami disajikan sarapan pagi, tapi dalam kondisi sepagi dan segembira itu, mana ada yang mau makan 😀. Setelah makan kami langsung di drop ke lokasi balon yang sudah menunggu. Sempat deg-degan lagi, karena pilot nya menjelaskan kami mesti menunggu hingga kondisi angin cukup bagus untuk naik. Raneeshya dan Tyo mulai ngambek lagi….

Akhirnya pkl 8.15 barulah dinyatakan aman unik terbang… Yeeaaay finally.

Dan memang cantiknya kota Cappadocia dari atas, subhanallah. Worth every single penny deh pokoknya.

Setelah selesai, bagian dari ritualnya adalah, pilot akan membangun wine dan kami bersulang bersama.

Anak-anak begitu happy-nya, bagian saya pribadi legaaa…, Gak mesti menghadapi anak2 yang merengek karena mundur terus naik balon terbang nya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *