Chengdu – Wenchuan

Masalah Solar Panel dan Mengunjungi Panda

  • Pagi berikutnya perjalanan kami lanjutkan menuju Chengdu, namun karena jaraknya cukup jauh 606 km dengan jarak tempuh 12,5 jam kami sempat bermalam di Luding hanya untuk istirahat sejenak, paginya perjalanan dilanjutkan menuju Chengdu.

 

  • Di Chengdu kami justru sibuk mencari kemungkinan pengganti solar panel kami yang rusak. Namun mencari yang ukuran kecil dan fit untuk diletakkan di atas mobil. Tapi Brenda sama sekali tidak memahami masalah ini, sehingga pengganti solar panel kami yang pecah di Laos masih belum bisa teratasi.

 

  • Brenda usul, untuk melihat panda lebih baik di Wenchuan yang terletak tak jauh dari Chengdu, karena pengunjungnya tidak sebanyak di Chengdu dan harga tiket pun lebih murah. Saat kami sampai di China Conservation and Research Center for The Gian Panda, Wenchuan, kami tiba terlalu sore sehingga tempatnya sudah hampir tutup. Namun rasa penasaran Colby terpuaskan setelah melihat panda dan baby panda.

GANSU PROVINCE

  • Kota yang kami lalui di Gansu Province saat melalui Gansu Province adalah Langmusi, Labrang, Regong dan Dunhuang. Namun Langmusi dan Regong hanya kami lalui dan menginap satu malam lebih karena jarak perjalanan yang panjang dan jauh. Jadi kota tsb tidak kami explore. Hanya Labrang dan Dunhuang.

 

  • Labrang
  • Ini salah satu kota favorit kami di China selain Litang, terletak di ketinggian 2.950 mdpl. Kota ini terselip di antara perbukitan bagian selatan provinsi Gansu. Kota ini sangat unik, karena dibagi menjadi beberapa bagian, bagian Hui (muslim), Han (China) dan bagian Tibet.

 

  • Di sini rasanya seperti tempat berkumpul seluruh koleksi biksu Tibet karena kemana pun kami berjalan ataupun memandang, para biksu dengan jubah merahnya terlihat di mana-mana. Dulunya, Labrang atau Xiahe ini merupakan salah satu areal Tibetan yang tertutup bagi turis dan termasuk areal yang relatif sulit dijangkau. Namun sejak thn 1970, Labrang mulai dibuka untuk pariwisata meskipun sebelum menuju ke sana mesti disadari bahwa tempat ini bisa ditutup oleh pemerintah China dalam sekejap jika ada hal sensitif yang terjadi. Seperti beberapa waktu lalu ada 2 orang biksu yang membakar dirinya di depan biara Labrang sebagai tanda protes atas pemerintahan China di Tibet.

 

Labrang Monastery

  • Daya tarik utama tempat ini adalah monastery/biara nya yang menjadi tempat berkumpul bagi ribuan biksu pada waktu-waktu tertentu. Saat berkumpul para biksu ini menggunakan jubah merah dan topi berbulu kuning yang menyerupai mohawks yang indah.

 

  • Kebanyakan para biksu ini sudah sejak kecil tertarik untuk menjadi biksu dan pindah ke biara untuk belajar menjadi biksu karena rasa takjub terhadap lingkungan di biara serta dorongan dan kebanggaan keluarga. Meskipun karena dorongan keluarga, umumnya mereka tetap menikmati dan bahagia hidup di biara. Selain belajar kehidupan di biara, mereka juga belajar tentang filsafat dan harus lulus 13 tingkat pengetahuan, setara dengan perguruan tinggi.
  • Sebelum waktu sembahyang, para biksu ini sering kali duduk-duduk di tangga monastery/biara, hingga saatnya waktu sembahyang tiba, 2 orang biksu akan muncul di atap dan meniup tanduk besar. Semua biksu membuka sepatu dan masuk ke dalam biara. Di dalam biara, ratusan biksu ini berdoa dalam barisan tempat duduk memanjang. Ruangan biara agak gelap dan suara doa terdengar sangat keras dan terus berulang. Umumnya para turis yang berada di dalam hall monastery akan diminta keluar, kita hanya bisa melihat di bagian depan pintu dan tidak diijinkan menggunakan camera, beruntung handphone tidak terlalu dipermasalahkan (selama tidak terlalu mencolok), sehingga saat itu kami masih bisa mengambil sedikit gambar di dalam monastery.

Ujian Debat Bagi Para Biksu

  • Setelah selesai morning praying, akan diikuti dengan ujian kenaikan kelas bagi para monk. Sebelumnya, para monk yang bersiap untuk ujian sudah mempersiapkan membawa bunga yang mereka petik dari halaman biara. Ujian debat para monk ini umumnya berupa pertanyaan-pertanyaan teologis dan filosofis, di bawah pengawasan seorang master. Saat kali pertama saya melihat suasana debat, hal yang terpikir adalah, apakah para biksu ini bertingkai? Karena sangat serius dan beberapa kali menepuk tangan dengan keras. Namun Eelco memberitahu bahwa mereka sedang berdebat, itu teknik debat mereka, di mana seorang biksu membuat argumen dan membela pendiriannya terhadap rekan-rekan di sekitarnya. Suasananya memang menyerupai perkelahian. Monk yang sedang di uji seringkali seperti kehilangan kata dan terus dicecar oleh para seniornya.

 

Masjid yang Dibangun di Labrang atau Xiahe

  • Losang, sahabat Eelco yang asli penduduk Labrang dan pemilik Overseas Tibetan Hotel tempat kami menginap menyarankan kami untuk mampir ke bagian muslim (Hui). Karenanya, setelah selesai mengunjungi Labrang Monastery, sorenya kami langsung menelusuri salah satu sudut kota bagian muslim (Hui). Diantara gang yang pas seukuran 1 mobil, kami melihat sebuah masjid indah berarsitektur gabungan China dan Tibetan. Masuk ke dalam masjid tersebut membuat kami terperangah kagum karena sangat indah. Setelah selesai sholat, beberapa orang Hui menghampiri kami karena penasaran melihat orang asing di masjid mereka. Setelah saya jelaskan bahwa kami dari Indonesia, mereka terlihat sangat antusias dan mengajak kami berkeliling masjid tersebut. Bagian atas tempat saya sholat tadi ternyata untuk pria sementara bagian bawah untuk wanita. Lantai terbuat dari pualam sementara dinding dari kayu tebal yang dipahat sangat indah. Menurut mereka masjid tsb dibangun dari hasil swadaya para Jemaah selama beberapa tahun dibangun secara perlahan, tanpa bantuan pemerintah sama sekali.