CHINA

  • Bagi para overlander, Negara ini paling merepotkan dan berbiaya tinggi. Banyak overlander yang memilih untuk cari jalan lain yang sebenarnya kadang lebih menyusahkan, dibanding masuk China. Bagi kami sendiri, karena dari Indonesia dan akan menuju Afrika dan Eropa, memang pilihannya terbatas. Mau lewat China atau Pakistan, Afghanistan. Dengan membawa 2 anak kecil, pilihan melalui Afghanistan rasanya terlalu berat, terutama bagi anak-anak.
  • Sebenarnya apa saja yang membuat para overlander agak alergi untuk melintasi China? Berikut hal-hal yang kurang kami sukai
  • Selama di China kami berkewajiban menggunakan guide China. Meskipun kami sudah lebih dari 7 kali ke China (tanpa menggunakan mobil), saat membawa mobil sendiri kita wajib membawa guide China dan menggunakan jasa travel agent setempat. Jadi semua biaya hidup si guide selama 1 bulan tersebut tentunya menjadi tanggungan kita dan mesti dihitung sejak awal sehingga cost untuk masuk China menjadi sangat mahal. Mungkin karena kami sudah terbiasa travelling mandiri, sehingga adanya guide justru terasa merepotkan. Terlebih guide ini berada 1 mobil terus bersama kami, sehinga privacy kami sekeluarga agak sedikit terganggu. Tapi memang tidak ada pilihan lain.
  • Lintasan/rute yang dilalui sangat menentukan besarnya biaya yang mesti kami bayar. Jadi tidak ada biaya mutlak sama untuk para overlander, karena tergantung lintasan/rute dan tergantung berapa hari kami di China. Jadi jika kita ingin semurah mungkin, maka ya ambil rute yang paling pendek untuk melintas china (mungkin bisa cuma 10 hari) dan usahakan provinsi yang dilalui sesedikit mungkin.

 

Saat mendiskusikan rute kami, bagian ini yang paling krusial dan membutuhkan diskusi panjang. Korespondensi diantara kami, Colby dan sang guide sudah berjalan 3 bulan sebelum kami masuk China. Guide sudah memberikan usulan berdasarkan areal/provinsi yang mau kami lalui, kemudian kami rombak, diskusi lagi dengan Colby, diskusi lagi dengan Brenda (guide kami). Bagi kami yang paling penting bisa melewati Lhasa dan Tibetan area serta juga bisa mampir di Xinjiang province. Sementara bagi Colby yang penting melewati great wall dan bisa lihat panda. Menggabungkan ini yang membutuhkan diskusi cukup panjang, karena berarti lintasan lebih panjang dan provinsi yang dilalui lebih banyak. Kami melintasi setidaknya 5 provinsi. Barulah dari situ travel agentnya menghitung biaya yang mesti kami bayarkan dan memberikan saran jika ingin lebih murah.

 

Rute awal kami sebenarnya melewati Lhasa (Tibet) dan di akhir rute sebelum memasuki Kyrgyzstan akan melalui provinsi Xinjiang. Namun akhirnya Lhasa terpaksa di skip karena waktu pengurusan permit khusus untuk masuk wilayah Tibet butuh waktu lebih lama (dan jauh lebih mahal). Jika mau masuk Lhasa dan provinsi Xinjiang (yang juga termasuk areal sensitif) membutuhkan waktu pengurusan ijin minimal 2 bulan bahkan Brenda merasa semestinya kami sudah deal sejak 2,5 bulan sebelum masuk jika berkeras ingin melalui Lhasa.

 

  • Tanggal masuk dan tanggal keluar China sudah mesti fixed. Juga border untuk masuk serta keluar China sudah mesti fixed. Tidak boleh melenceng dan jika overstay, dendanya lumayan mahal. Overstay dengan denda mahal hanya bisa untuk 3 hari, lebih dari itu akan ditahan/penjara. Karenanya jadwal/itinerary kami selama di China sangat ketat. Waktu kami melintasi itu benar-benar 29 hari dengan 1 hari cadangan jika ada masalah dijalan. Banyak overlander yang kurang suka situasi ini, karena tidak bisa menikmati perjalanannya itu sendiri.

 

  • Deposit mobil juga dibutuhkan karena China tidak mengacu pada aturan Carnet. Deposit mobil ini cukup mahal karena dihitung dari nilai mobil (sekitar 25%). Jadi semakin mahal mobilnya, akan semakin tinggi angka depositnya. Deposit akan dikembalikan paling cepat 1 bulan setelah kita keluar dari China.

 

  • Mesti mengurus temporary license plate atau plat mobil sementara dan temporary driver licence (SIM sementara). Jadi saat di China, plat mobil dari Indonesia gak berlaku. Mereka hanya mengakui plat mobil dari Negara mereka. Mereka juga tidak mau repot membaca SIM internasional kita, jadi SIM sementara yang diberikan sudah berbahasa China.

Dalam hal plat mobil ini sangat dibutuhkan. Karena jika mau masuk jalan tol atau parkir mobil, camera mereka akan mendeteksi plat mobil kita, setelah plat mobil terbaca barulah mesin otomatis akan bekerja dan gate/plang bisa terangkat. Untuk mengurus temporary license plate ini biayanya sih katanya gak mahal sekitar 10 yuan (20 ribu rupiah), cuma kami gak sanggup kayaknya kalau ngotot mau ngurus sendiri J, birokrasinya lumayan panjang dan semua petugas cuma bisa berbahasa China. Pasti puyeng.

Untuk mengurus, mesti mengisi sejumlah formulir. Melengkapi data dan melampirkan foto serta international driver licence kita. Setelah seluruh kelengkapan tsb di verifikasi dan sudah sesuai mereka akan approved, kami mesti berpindah gedung / departemen untuk test fisik kendaraan. Di gedung tsb, berkas kita masukkan lagi mereka cek lagi dan kemudian mobil mesti diserahkan pada mereka untuk di test / uji. Hal yang mereka uji adalah melihat kemampuan mobil berhenti saat di rem (diukur dengan alat tertentu), beban mobil, dll. Mobil dikendarai oleh petugas mereka. Untungnya Cappuccino mobil keluaran akhir 2017, semuanya aman. Dalam waktu 30 menit, Cappuccino dinyatakan layak mengaspal di Negara China.

Untuk Colby, sedikit bermasalah saat test/uji fisik kendaraan ini. Karena Colby tidak bersedia menyerahkan motornya untuk di test oleh petugas dari mereka. Menurut Colby, petugas akan kesusahan menggunakan motornya karena sangat berat (Colby menggunakan motor Triumph Tiger 800 cc), kalau tidak terbiasa akan kerepotan dengan keseimbangan. Colby pernah membaca di group komunitas overlander khusus motor, bahwa ada motor yang saat di uji terjatuh dan motornya rusak. Perjalanan Colby masih lebih dari 100.000 km lagi, dia tidak mau motornya bermasalah nantinya. Lumayan lama juga negoisasi untuk hal ini. Lebih dari 1,5 jam guide kami berdebat dengan petugas, dan akhirnya dengan marah si petugas menyetujui juga. Guide kami hanya menekan bahwa jika motornya jatuh atau rusak, mereka harus segera mengganti kerusakan dalam waktu kurang dari ½ hari karena waktu perjalanan kami sangat ketat.

Setelah test uji fisik kendaraan selesai, keluarlah temporary license plate Cappuccino lengkap dengan temporary driver license (SIM) kami yang akan berlaku untuk 1 bulan kedepan selama kami di China. Yeaaay!

 

  • Selama di China, penggunaan social media juga dibatasi. Mereka memiliki aplikasi tersendiri. We-chat sebagai pengganti whatsapp, Bing sebagai pengganti google, dst. Perlu diketahui bahwa semua yang kita gunakan tsb sepenuhnya dipantau oleh pihak pemerintah. Ini bagian tersulit bagi kami, karena saat mesti diskusi dengan Colby saat diperjalanan (misalnya share location, dll) mau tidak mau kami mesti menggunakan aplikasi tsb.

Karena berbiaya tinggi tsb lah, maka sejak awal para overlander berusaha mencari teman jalan untuk melintasi China, sehingga bisa sharing cost. Kami beruntung bisa mendapat teman jalan yang sangat enak dan overlander berpengalaman, yaitu Colby. Selama perjalanan kami bisa berdiskusi untuk banyak hal dan setelah melalui 1 bulan bersama, hubungan kami selayaknya saudara. Hingga kini kami rajin berkirim khabar dan saling mengecek keadaan kami satu sama lain meskipun sudah terpisah Negara yang dilalui.

 

  • YUNNAN PROVINCE
  • Jinghong – Dali – Lijiang – Shangri la
  • MENGLA-JINGHONG
  • Mengla adalah kota kecil yang berbatasan dengan Laos. Untuk urusan temporary driver license dan temporary license plate dilakukan di Mengla. Setelah urusan administrasi tersebut semua selesai, kami langsung menuju Jinghong yang terletak 137 km dari Mengla. Brenda (guide kami) memutuskan lebih baik kami terus maju ke kota berikutnya untuk menghemat waktu, selain juga karena Jinghong kota yang lebih besar dan lebih nyaman untuk menginap.
  • Kami sampai di Jinhong sudah cukup malam, pkl 21.30 waktu setempat. Waktu kami seharian habis untuk melewati Laos – China border dan pengurusan administrasi di mengla. Jinghong sendiri sebenarnya cukup menarik, karena ada botanical garden, gajah liar valley dan huge Buddha sculpture. Namun waktu kami terbatas, bagian ini kami terpaksa skip, besok pagi kami sudah mesti menuju Dali.
  • DALI
  • Terletak 813 km dari Jinghong dan membutuhkan waktu minimal 10 jam perjalanan. Sebenarnya rute ini benar-benar tidak nyaman bagi kami, bayangkan minimal 10 jam di mobil, rasanya agak keterlaluan. Tapi itulah China, daratannya begitu luas, untuk dilewati 1 bulan mau tidak mau banyak ketidaknyamanan yang akan kami hadapi.
  • Kami bangun pagi, sarapan cepat berupa bubur China di hotel Jinghong dilengkapi dengan bakpao tanpa isi langsung bersiap untuk jalan. Pkl 08.00 kami sudah meluncur menuju Dali. Untungnya hampir 90% perjalanan lewat highway (bayangkan kalau jalan biasa dan pakai macet, pasti butuh 2 hari baru sampai Dali).
  • Highway di China lumayan mahal. Kami menghabiskan lebih dari 200 yuan (lebih dari 400 ribu rupiah). Tapi memang sebanding karena jalannya yang cukup jauh dan tolnya sangat mulus. Melaju dikecepatan 140 km/jam pun masih nyaman dan santai. Yang beruntung Colby, karena ternyata Colby bisa masuk tol tanpa mesti bayar. Karena kelihatannya mereka hanya mempertimbangkan mobil yang masuk ke highway. Brenda bercerita, bahwa kebijakan disetiap provinsi berbeda-beda. Ada tol yang tidak mengijinkan motor masuk, ada yang mengijinkan masuk.
  • Brenda juga menjelaskan bahwa bulan Juli dan Agustus semua tempat destinasi wisata di China padat, karena liburan resmi China selama 2 bulan. Jadi meskipun pada bulan-bulan ini adalah musim hujan, bagi mereka tidak ada pilihan, mereka tetap berlibur bersama keluarga, karena selain itu tidak ada libur resmi yang panjang lagi kecuali saat imlek.

 

  • Dali terletak di lembah pegunungan Yungui dengan ketinggian hampir 2.000 mdpl (dari permukaan laut) mengeliling danau Erhai yang menambah keindahan kota Dali. Kota ini di huni oleh suku minority Bai dan Yi yang dulunya tinggal di kota tua Dali. Namun kini, kota tua kebanyakan berisikan toko-toko souvenir dan makanan yang di desain sangat unik. Selain kota tua, danau Erhai, Dali juga disukai karena budaya dan pemandangan alamnya.

 

  • Namun Dali yang kami singgahi kali ini sudah sangat berbeda dengan Dali yang kami singgahi 15 tahun yang lalu. Suasana pedesaan Dali yang dulu sudah menghilang. Namun tetap banyak hal menarik yang bisa kami explore. Sayangnya waktu kami disini hanya 2 hari, setelahnya mesti berpindah ke Lijiang.
  • Kebanyakan guest house di Dali memiliki ruang terbuka yang nyaman untuk bersantai. Rasanya ini bagian dari fengshui yang biasa mereka terapkan saat mengatur ruangan agar chi (energy) bisa mengalir leluasa dan memberi kenyamanan bagi seluruh anggota keluarga yang menempati rumah tersebut. Di Hotel kami, ruang terbukanya benar-benar nyaman bagi anak-anak untuk belajar saat pagi hari dan bermain saat sore hari.
  • Kami hanya sempat berkeliling Erhai lake dan mengunjungi Old Town Dali. Bagian yang paling anak-anak suka di Old Town Dali adalah toko-tokonya yang dihias dengan sangat menarik dan unik, variasi makanan yang dijual sangat banyak dan enak-enak serta suasana berbagai hiasan lampu yang menarik disepanjang jalannya.
  • Anak-anak sangat menyukai yak or chicken skewer yang dijual disana. Ini semacam sate dalam potongan besar. Harganya berkisar sekitar 10 – 20 yuan (tergantung jenis dagingnya), jika dirupiahkan sekitar 20 – 40 ribu rupiah. Tentu saja Yak Skewer yang paling mahal, tapi memangrasanya mantap. Buat saya, 1 tusuk skewer ini saja sudah cukup kenyang, tapi buat Tyo, 3 tusuk saja masih minta tambah J
  • LIJIANG
  • Setelah dari Dali, perjalanan kami lanjutkan ke kota Lijiang yang terletak 200 km dari dali. Ketinggian kota Lijiang 2.400 mdpl, lumayan dingin. Kota ini masuk dalam situs warisan dunia UNESCO.
  • Suku yang menempati kota ini adalah suku Naxi. Terakhir kami ke Lijiang, setiap sore hari para ibu-ibu naxi berkumpul di tengah old town dan menari bersama. Kadang mereka mengajak pengunjung untuk ikutan menari karena memang tariannya sangat simple dan mudah untuk diikuti.
  • Karena kami hanya memiliki 1 hari menginap di Lijiang, maka hanya bisa mampir di kota tuanya untuk makan malam. Old city nya hampir mirip dengan yang ada di dali, cuma toko-toko yang ada di Old City Lijiang ber undak-undak, jadi mesti naik turun. Lumayan capek juga karena seperti olahraga di ketinggian J. Hal lain yang kami sukai di Old City Lijiang adalah sungai kecil yang mengalir di tengah kota tsb, konon katanya kita bisa melarung lilin ke sungai kecil tersebut dan “make a wish”. Jika mau melarung lilin, harganya gak mahal koq, cuma 20 yuan.
  • Sebenarnya jika waktunya cukup dan memungkinkan, kami ingin sekali mengulangi jalur trekking Tiger Leaping Gorge yang pernah kami lakukan dulu. Sayang waktu kami benar-benar sangat terbatas.
  • SHANGRI-LA
  • Kota selanjutnya yang kami kunjungi di Yunnan Province adalah Shangri la, kota cantik yang kebanyakan di huni oleh para Tibetan dan terletak di ketinggian 3.160 mdpl. Kebayang kan dinginnya kota ini, terlebih saat malam hari. Kami punya waktu 3 hari 2 malam di kota ini karena memang Eelco mendesak tambahan waktu disini dengan mengurangi waktu ditempat lain, jadi lumayanlah cukup waktu sedikit untuk explore arealnya.
  • Suasana Tibet terasa kental di sini. Arsitektur rumah, prayer wheel, flag prayer yang berkibar tertiup angin serta monastery nya dibuat seperti di Lhasa. Cukup mengobati keinginan kami untuk mampir ke Lhasa yang tidak terpenuhi. Pegunungan dengan puncaknya yang bersalju terlihat nun dikejauhan. Gerombolan yak berjalan perlahan di padang rumput berbaur dengan domba ada dimana-mana. Disini kita bisa merasakan aroma Tibet tanpa harus membayar permitnya yang mahal dan sulit diraih. Konon, hingga saat ini wilayah ini dapat ditutup kapan saja tanpa peringatan untuk para orang asing (foreigner) jika ada protes atau masalah sensitif lainnya yang ingin disembunyikan oleh pemerintah. Karena ini sebenarnya wilayah ini masih masuk dalam wilayah Tibet, bukan Cina.

Kami sengaja ingin berkunjung ke rumah salah satu ethnic minority di lokasi ini. Namun guide kami Brenda Nampak tidak siap dengan permintaan kami. Wajahnya berkerut bingung dan mengatakan untuk apa ? Aduh, tepok jidat deh saya, masak sih permintaan semacam ini tidak dipahami oleh seorang guide.

Karena itu, akhirnya kami putuskan untuk berjalan sendiri secara terpisah. Brenda kami tinggal dengan Colby, pagi berikutnya kami keluar lebih pagi meluncur ke arah Pudocuo National Park. Berharap saat menuju Pudocuo atau setelah Pudocuo bisa menemukan ethnic minority yang rumahnya bisa kami singgahi. Dan thank god, tanpa sengaja saat kami berhenti untuk mengambil foto, melihat ibu yang sedang sibuk bekerja dan menawarkan kami untuk mampir ke rumahnya. Rasanya seperti mendapat durian runtuh

Walaupun kami saling tidak mengerti bahasa yang digunakan satu sama lain, tapi suasana dirumah si ibu langsung ramai. Hanya 2 anak si ibu yang masih malu-malu. Rumahnya terbilang sempit namun hangat dan nyaman. Tungku perapian terletak ditengah rumah menambah kehangatan di dalam ruangan. Ngobrol dalam bahasa tarzan cukup seru karena si ibu tipe yang ramah dan terbuka. Kami dapat suguhan yak butter tea, tapi cuma berani meneguk sedikit J. Meskipun baru bertemu 2 jam dan sulit dalam berkomunikasi, tapi serasa kami sudah sangat dekat karena keramahan si ibu. Saat pulang, sempat berfoto bersama