• SICHUAN PROVINCE

Perjalanan menuju Litang

  • Dari kota Shangri La, Yunnan Province kami melanjutkan perjalanan menuju Litang di Sichuan Province. Jika melihat di peta, jarak kedua tempat ini sebenarnya tidak jauh, hanya 410 km, namun jarak tempuhnya lebih dari 10 jam perjalanan. Menurut Brenda, bisa jadi akan lebih dari waktu tersebut jika ada longsor ataupun mobil mogok di jalur yang sempit.

 

  • Ternyata memang rutenya sangat luar biasa. Jalanan yang kami lalui sebagian beraspal sebagian lagi masih berupa tanah keras. Lintasannya naik turun pegunungan mulai dari 3.200 mdpl naik menuju 4.200 mdpl kemudian turun ke 2.200 mdpl kemudian naik lagi hingga 4.750 mdpl dengan pemandangan yang luar biasa indahnya. Setiap 30 menit – 1 jam jalan, pasti kami berhenti untuk mengambil gambar/foto landscape, karena memang pemandangannya menakjubkan. Jadi rasanya jika kami memang mesti 2 hari di perjalanan, bukan akibat adanya jalan yang longsor, tapi habis waktu untuk ambil foto J.

 

  • Di beberapa titik memang jalan tersendat akibat adanya longsor sehingga bebatuan berserak menutupi jalan, namun perjalanan tidak terhenti, hanya tersendat. Hujan dan gerimis turun bergantian menemani sepanjang perjalanan kami. Selama perjalanan, signal telp terputus total. Kebayang deh kalau ada masalah ditempat seperti ini.

 

  • 6,5 jam perjalanan awal tersebut (menjadi hampir 9 jam karena banyak berhenti) hampir tidak ada desa yang kami lalui. Bekal snack dan buah-buahan yang kami bawa sangat terbatas. Dengan kondisi dingin sepanjang jalan, bawaannya lapar terus. Raneeshya mulai menangis kangen makan nasi dendeng balado buatan Tante Ina (ha..ha..ha, saya selalu tertawa geli jika ingat hal ini) sementara Tyo mengeluh karena pegal, Colby sendiri kelihatannya mulai kelelahan karena lintasannya cukup berat bagi motor triumph tiger miliknya. Kami memutuskan untuk berhenti jika ada desa terdekat dan bermalam didesa tsb. Brenda masih membujuk untuk terus lanjut hanya tinggal 3,5 – 4 jam lagi karena rute selanjutnya sudah relatif beraspal. Namun kami semua sepakat untuk stop jika ada desa. Untungnya kami memutuskan seperti itu, karena ternyata 3,5-4 jam beraspal itu tidak benar adanya, esok harinya kami tetap menghabiskan waktu 7 jam diperjalanan.

 

  • Saat berhenti di desa pertama yang kami temui, kebetulan ada warung kecil untuk makan. Kami pun memesan makanan sambil beristirahat. Anak-anak begitu happy bisa bermain dan bebas bergerak meskipun hanya sejenak.

 

  • Sejumlah biker China yang melalui lintasan yang sama ikut berhenti juga di desa yang sama dan langsung bisa ngobrol klop dengan Colby (tentunya dengan dibantu diterjemahkan oleh Brenda). Para biker menunjukkan hotel kecil yang bisa kami inapi. Namun setelah di cek oleh Brenda, ternyata hotel tsb tidak bisa menerima orang asing, sehingga terpaksa kami maju lagi ke desa berikutnya untuk bisa bermalam. Dan para bikers yang semula sudah check in di hotel tsb pun ikut pindah ke hotel yang kami inapi karena ingin ngobrol-ngobrol berbagi pengalaman dengan Colby.

 

  • Hotel yang kami inapi sebenarnya sangat sederhana, bahkan cenderung sangat basic untuk di inapi. Hanya ada 2 tempat tidur dengan matras yang sangat keras dan selimut yang sudah lumayan berbau. Ruangannya berukuran 2,5 x 2,5 meter dan langsung terasa sangat sempit dan padat setelah kami berempat masuk. Untuk kamar seperti ini, kami mesti membayar 100 yuan (sekitar 200 ribu rupiah), ini pun setelah tawar menawar. Mungkin jika di Indonesia, kamar seperti ini hanya seharga 100 ribu rupiah. Jauh lebih nyaman tidur di Rooftop tent. Tapi memang tidak ada pilihan lain. Kami ingin memasang tenda, tapi Colby sudah sangat kelelahan dan malas untuk membongkar perlengkapan inapnya didalam ransel. Brenda juga wajahnya langsung keruh jika kami ingin tidur di tenda. Brenda tipe anak milenial yang lebih happy main di perkotaan dan tidak mau susah dengan kerepotan tidur di tenda. Jadi ya, kami putuskan tidur di hotel tsb meskipun sangat sempit.

 

  • Ternyata hotel kecil yang kami inapi memiliki kamar kecil yang sangat sederhana untuk menikmati hotspring. Malam itu kami melingkar santai di dalam ruangan khusus untuk berendam. Obrolan ngalur ngidul akhirnya terhenti saat para bikers China ingin ikutan berendam juga namun tempatnya terlalu sempit J. Akhirnya kami sekeluarga mohon undur diri duluan supaya ada ruang bagi para bikers untuk bisa ngobrol santai dengan Colby sebagai sesama bikers. Meskipun hanya sempat 1,5 jam berendam di hotspring, sudah cukup lumayan untuk menghilangkan pegal-pegal sepanjang perjalanan hari tersebut.

Tour Kecil di Desa Kecil

  • Paginya para bikers sudah heboh mempersiapkan diri untuk berangkat convoy bersama Colby. Rencananya, para bikers dan Colby akan jalan bersama hingga ke perbatasan Yading. Di persimpangan itu Colby akan menunggu kami dan bersama-sama menuju Litang. Sementara kami ingin menikmati jalan-jalan sedikit di desa tsb sebagai pengganti mampir di Yading sesuai planning awal, Yading kami skip akibat kami berhenti di desa ini kemarin.

 

  • Ternyata desa kecil ini lumayan bagus juga. Rumah-rumah disini sangat besar dan bagus seperti model rumah Tibetan dengan bunga-bunga cantik menghiasi halaman rumah. Ibu-ibu dengan baju khas Tibetan berjalan santai sambil memutar prayer mill atau menggenggam bebijian menyerupai tasbih. Para bapak berdoa sambil berputar mengeliling stupa kecil yang berada di tengah desa.

 

  • Seorang bapak dengan 2 anak perempuan kecil, menyapa kami dalam bahasa Tibetan dan mengajak kami mampir ke kebun apelnya. Wah, kebun apelnya sangat luas dan berbuah lebat. Pohon apelnya pendek, sehingga untuk mengambil apelnya sangat mudah, tinggal dipetik. Apelnya pun manis sekali. Kami ambil secukupnya dan ngobrol dengan bahasa tarzan. Anak-anak saling menyapa dengan malu-malu dan pelan-pelan mulai membaur. Rasanya kami ingin berlama-lama di desa ini, tapi kasihan Colby yang menunggu kami di persimpangan.

 

  • Perjalanan menuju persimpangan Yading dan Litang ternyata cukup jauh, membutuhkan waktu lebih dari 5 jam untuk sampai lokasi tersebut. Jalanan memang sudah lebih bagus dan beraspal, namun masih banyak jalanan yang sebagian jalannya tertutup gundukan longsoran batu. Eelco mengajarkan pada anak-anak tentang tipisnya oksigen di ketinggian dan apa yang harus dilakukan untuk mengatasi situasi tsb. Untuk mendukung apa yang diajarkan, maka kemudian kami berhenti lagi di ketinggian 3.700 mdpl dan meminta anak-anak untuk uji coba berlari sejauh 100 m. Menanyakan apa yang mereka rasakan dilanjutkan dengan diskusi kecil. Gaya belajar experiential learning lebih cocok dan mengena buat anak-anak kami.

 

  • Sampai dilokasi yang sudah kami tetapkan kami bertemu Colby. Perjalanan dilanjutkan lagi menuju Litang dengan tetap berhenti di banyak tempat untuk menambah koleksi foto/video kami. Tiba di Litang sudah pukul 7 malam. Kami segera check ini di hotel yang baru saja dipesan oleh Brenda via online. Hotelnya cukup nyaman dan harga yang kami dapat juga relatif murah untuk hotel di China. Kami dikenakan 175 yuan (sekitar 350 ribu) untuk triple bed.

 

Malam itu kami makan di resto yang ada di sebrang hotel. Sang pemilik resto senang sekali mendapat tamu orang asing. Melihat antusiasnya si owner, kami berharap mendapat harga bagus untuk makanan yang kami pesan, ternyata sama saja. Untuk makan malam kami mesti bayar 200 yuan, lebih mahal dari hotelnya L

 

  • Litang
  • Ah Litang – kota favorit kami yang sangat nyaman di Sichuan Province ini. Terletak di ketinggain 4.000 mdpl dengan populasi warga Tibet 80% ini terasa seperti dunia yang sangat berbeda dibanding kota China lainnya. Pemandangan yang menenangkan hati ada dimana-mana. Orang-orang yang sudah lanjut usia berjalan di jalanan sambil memutar prayer wheel ditangannya dan menyambut kami dengan ucapan khas ‘tashidele’ (salam khas Tibet), semua orang tampak tersenyum membuat kami merasa nyaman.

 

  • Litang yang sangat cantik ini memiliki sejarah keagamaan penting selama berabad-abad. Dalai Lama ke-3 membuka Biara Ganden Thubchen Choekhorling pada tahun 1580, di mana biaranya menghadap ke kota yang dipenuhi para lama dan biksu yang tekun beribadah, hingga kini merupakan peninggalan yang begitu indah, Dalai Lama ke-7 lahir di salah satu rumah sederhana di pusat kota ini dan jika ingin mengunjungi gedung tersebut tinggal meminta penjaga rumah wanita tua yang ramah untuk mengizinkan kita masuk (gratis). Jika ingin belajar banyak dan melihat ritual tentang Buddhis, kita bisa nongkrong ber jam-jam di Chorten Karpo.

 

Ritual Pemakaman ‘Sky Burial’

  • Di bukit-bukit sekitar Litang ini, kita masih bisa menyaksikan sky burial, ritual pemakaman bagi orang-orang Tibet yang sakral dilakukan. Kami tidak berkesempatan untuk melihat, namun jika iya mungkin kami tidak akan sanggup.

 

  • Sky Burial adalah ritual budaya kuno yang merupakan cara unik umat Buddha Tibet saat melepas “kepergian” keluarga mereka dengan memberikan jenazah kepada makhluk-makhluk langit (istilah mereka), yaitu burung nasar. Jika seorang Tibetan meninggal, mayat akan dibungkus kain putih dan ditempatkan di sudut rumah selama 3-5 hari dan para bikhu atau lhama akan membaca kitab suci untuk mendoakan jenazah tsb. Sehari sebelum waktu Sky Burial, tubuh jenazah dibengkokkan seperti posisi janin yang merunduk. Kemudian mayat tsb dibawa ke areal perbukitan yang biasa digunakan untuk Sky Burial. Bahan tertentu dibakar untuk mengundang burung nasar. Tubuh mayat dipotong-potong dan diiris dan setelahnya diberikan pada burung nasar.

 

  • Bagi banyak orang, budaya seperti ini terlihat mengerikan, tapi di Tibet ini merupakan hal yang sakral dan penting. Mayat diberikan sebagai persembahan untuk makhluk yang akan mengkonsumsinya dan memberikan tenaga untuk melayang tinggi diatas Himalaya. Karena faktanya ketika seseorang meninggal, jiwa meninggalkan tubuh dan tubuh menjadi cangkang yang kosong. Manfaatnya – burung nasar diberi makan, tidak ada tubuh yang membusuk, tidak ada abu jenazah yang mesti disimpan, tidak perlu ada peti jenazah. Cuma bagi kita, budaya ini memang terasa sangat tidak lazim, bahkan kami sendiripun tidak bersedia mengizinkan anak-anak melihat sky burial (jika memang berkesempatan) karena rasanya anak-anak saat ini belum bisa masuk kepemahaman tsb. Dan mesti diingat, ini bukan atraksi wisata. Biasanya orang asing yang mau melihat sky burial, mesti menyaksikan dari jauh dari keluarga yang sedang melakukan ritual sakral tsb.

 

  • Pagi ini kami berencana untuk mencuci cappuccino yang sudah ditutupi debu tebal dan dipenuhi lumpur. Di lokasi parkir hotel terdapat slang air, jadi bisa mencuci mobil sendiri karena di China sangat susah sekali mencari tempat pencucian mobil. Kami sekeluarga pun bekerja sama mencuci mobil. Tapi sedang asyik-asyiknya mencuci mobil, sejumlah polisi China datang dan berbicara serius dengan petugas di hotel. Terlihat ada masalah, namun kami tidak memahami situasinya, karena hanya melihat dari kejauhan. Tak berapa lama, Brenda dan Colby mendatangi kami yang hampir selesai mencuci mobil. Colby bicara dengan wajah serius : “We have to move ?, We have to find another hotel”. Kami tertawa karena merasa lucu, kenapa mesti pindah ? tempatnya lumayan enak koq. Ternyata…., hotel yang kami tempati tidak boleh diinapi oleh orang asing (foreigner) hanya boleh menerima penduduk local. polisi yang tadi kami lihat di lobby hotel melakukan teguran keras pada pihak hotel dan hotel tersebut terkena sanksi ditutup untuk selama sebulan. Semua tamu yang menginap dihotel tsb mesti keluar dan cari hotel lain. Kami lumayan kaget dengan kerasnya pihak pemerintah China. Kasihan pemilik hotelnya. Kami juga menegur Brenda, kenapa sebagai guide hal seperti ini tidak diperhatikan. Karena kasihan pihak hotel mesti merugi gara-gara kami menginap dihotel tsb.
  • Kami mesti menginap di hotel yang memiliki nama “international” yang berarti hotel tsb bisa menerima tamu asing. Kami pun boyongan ke hotel yang lainnya yang dipesan Brenda. Untuk pindahan hotel begini saja, habis deh waktu kami selama 4 jam. Karena Brenda mesti mencari hotel dulu, kami mesti packing, pindah hotel, check in di hotel baru dengan mengisi formulir untuk setiap orang dari kami…., lumayan mengesalkan. Karena selama di China, waktu terasa sangat berharga. Hari itu, praktis cuma kami isi dengan mencuci mobil dan pindahan hotel. Sorenya kami isi hanya bisa jalan-jalan keliling kota Litang sebentar, melihat pasar dan makan malam di café yang unik.

 

  • Esok paginya, kami mampir ke Biara Ganden Thubchen serta menyempatkan ngobrol-ngobrol ringan dengan para monk yang sedang belajar di sekolah biara dibelakangnya. Sekolah biara ini cukup besar, menampung lebih dari 800 murid. Mereka belajar dengan menggunakan buku ber aksara Tibetan bukan tulisan China.

 

  • Sore hari, kami duduk-duduk santai di areal perbukitan dibelakang biara. Tempat yang nyaman untuk bersantai sambil melihat kota Litang. Flag prayer berkibar dibanyak sudut, sangat kontras dengan bentangan langit yang biru bersih tanpa polusi. Raneeshya dan Tyo begitu happy berlarian diantara flag prayer.

 

  • Ternyata tempat tsb merupakan playground bagi anak-anak setempat di sore hari. Tak berapa lama sejumlah anak mulai bermain dan terus bertambah hingga lumayan ramai. Raneeshya dan Tyo langsung happy dan ikut berbaur bermain bersama anak-anak ini, bahasa sama sekali tidak menjadi kendala bagi mereka untuk bermain. Kami menghabiskan lebih dari 3 jam di bukit ini. Dan berpisah dengan anak-anak manis ini dengan rasa sedih, terutama Raneeshya dan Tyo. Mereka seperti menemukan pengganti teman-teman main mereka di Indonesia.

 

  • Malam, saat kembali ke hotel, anak-anak tidur dengan tersenyum bahagia…, saat seperti ini kadang terselip rasa bersalah karena telah mimisahkan mereka dari teman bermain mereka di Indonesia. Tapi kami yakin, perjalanan ini akan membuat mereka lebih mandiri, lebih matang dan mampu menghargai dan menghormati perbedaan budaya diberbagai belahan dunia.