Camping di Tepi Sungai

  • Dari Labrang kami melanjutkan perjalanan menuju Dunhuang dan Tyo sudah meminta untuk tidur di tenda. Akhirnya dapat juga tempat yang nyaman di tepian sungai dan anak-anak sangat happy dengan tempat tsb, namun sayangnya mobil dan motor tidak bisa menyeberang sungai karena tidak ada jembatan. Karena anak-anak sudah kadung senang dengan tempat tsb dan tidak bersedia pindah lokasi, terpaksalah kami dan Colby yang pusing mesti mengangkat seluruh perlengkapan camping keseberang sungai. Untung Colby cukup sabar, kalau cuma kami berdua yang mengangkat perlengkapan tsb, pasti sudah tepar.
  • Malam ini kami menggunakan tenda besar karena rooftop tent tidak bisa diangkut menyeberang sungai. Colby menggunakan tenda mininya. Baru saja selesai memasang tenda, hujan deras turun tanpa ampun. Untung tenda kami lumayan besar dan tinggi. Meja dan kursi makan kami masukkan kedalam tenda, jadilah kami dinner didalam tenda
  • Dunhuang
  • JiaYuGuan Great Wall
  • Kami mampir ke Dunhuang karena ingin menyaksikan bagian paling barat great wall / tembok china yang memiliki panjang 21.196 km, karena bagi anak-anak akan bagus jika mereka memahami China termasuk tentang great wall nya.
  • Great Wall di sini ternyata dibangun pada periode yang berbeda dan memiliki metode konstruksi yang berbeda pula, karena great wall merupakan tembok yang sangat panjang dan melalui berbagai daerah yang berbeda-beda, maka konstruksi dan material bangunan disesuaikan dengan areal masing-masing. Dalam hal di areal ini mereka menggunakan pasir dan gulma serta jerami dan kayu mungkin karena memang kawasan Dunhuang merupakan kawasan gurun, sementara di kawasan lain lebih banyak menggunakan batu bata. Great wall disini juga berusia jauh lebih tua karena dibangun pada dinasti Han, 1000 tahun lebih tua dibandingkan great wall di Beijing misalnya. Sebenarnya selain great wall, di Dunhuang masih ada beberapa tempat menarik lainnya, namun kami sudah mulai kelelahan akibat selalu berkejaran dengan waktu dari satu tempat ke tempat lainnya. Jadi kami memilih untuk istirahat agar besok bisa kembali dengan tubuh yang lebih segar.
  • QINGHAI PROVINCE

Gurun dan Danau Qinghai

  • Di provinsi ini sebenarnya kami hanya lewat untuk menuju Xinjiang. Namun karena ada danau yang sangat cantik dan konon merupakan danau terbesar di China, jadi sayang rasanya jika tidak kami kunjungi.
  • Yang menarik dari kawasan ini adalah danaunya dikelilingi oleh gurun pasir, sehingga sekali datang bisa langsung menikmati 2 kegiatan. Kami memutuskan untuk mencoba gurun pasirnya terlebih dahulu. Anak-anak langsung happy saat Cappuccino menjajal gunungan pasir tebal.

 

Situasi Motor Colby

  • Namun, baru 15 menit memasuki kawasan tsb, tiba-tiba motor Colby tersendat dan berhenti tidak mau bergerak sama sekali. Bagaimanapun di utak atik, motor tidak bergeming. Keringat Colby langsung bercucuran. Bingung dan pusing karena motornya tidak gampang di dorong. Dijalan rata saja sudah sulit, terlebih ini diatas pasir.
  • Sementara Colby dan Eelco berkutat mencari penyebabnya, anak-anak diajak bermain oleh anak-anak lokal yang asyik dengan papan seluncur untuk pasir. Selanjutnya, Tyo mau mencoba ATV yang kebetulan lewat. Lumayan juga kegiatan kecil yang membuat anak-anak sibuk bermain di gurun pasir.
  • Untungnya pemilik ATV juga sedikit memahami masalah di motor Colby. Entah apa yang dilakukannya, namun dalam waktu 1 jam kemudian motor bisa hidup dan jalan lagi, meskipun Colby mesti membayar lumayan juga untuk bantuannya itu. Namun si pemilik ATV menjelaskan pada Brenda bahwa solusi yang dia berikan hanyalah sementara, hanya bisa bertahan max 1000 km bahkan mungkin kurang. Jadi Colby mesti segera mencari bengkel besar untuk memperbaiki motornya
  • Colby bisa tersenyum kembali setelah tegang selama hampir setengah hari. Kami memutuskan untuk mendekat kearah danau dan makan siang disana. Namun ternyata tidak ada warung atau restaoran, so perlengkapan masak kami keluarkan. Colby dengan happy membuat noodle bagi kami semua. Sementara anak-anak masih bisa bermain perahu karet di danau. Setelahnya Colby baru ingat bahwa dia belum sempat menikmati gurun pasirnya. Jadilah kami naik turun di gurun pasir dengan cappuccino

Ojek-ojek ATV yang Mencoba “Menyicipi” Capuccino

  • Saat turun, para ojek ATV disana membujuk Eelco untuk diijinkan mencoba mobil RHD (Right Hand Driving) mereka punya beberapa jeep disana, tapi China menerapkan LHD jadi semua jeep tsb tentunya LHD juga. Eelco mengalah…, mengijinkan 1 orang dari mereka mencoba untuk 10 menit. Si mas langsung happy luar biasa. Ternyata mas ini jago bawa jeep, naik turun di gurun pasir terlihat sangat fasih. Setelah selesai, dengan senyum lebar si mas tsb memeluk Eelco dan mengucapkan terima kasih. Acara ditutup dengan sesi foto bareng para mas-mas ATV.

Motor Colby ‘Ngambek’ Lagi L

  • Ternyata permasalahan motor Colby belum selesai. Esok harinya, Saat diperjalanan yang hanya berjarak sekitar 300 km, motornya mogok lagi dan Colby kembali tegang. Kami berusaha mencari bengkel disepanjang jalan namun setelah beberapa puluh km baru bisa didapat bengkelnya. Itupun sudah menjelang sore dan bengkel sudah mau tutup. Masalah utama adalah plat kopling. Mesti ganti plat kopling yang baru. Namun bengkel kecil seperti ini tentunya tidak memiliki plat kopling yang sesuai. Mesti mencari di luar China. Jadi perbaikan hanya dilakukan temporary lagi. Butuh waktu 2 jam hingga motornya bisa kembali jalan namun sang montir menekankan, akan jauh lebih baik jika motor tsb tidak melalui tanjakan berat lagi. Selain itu beban di motor sebaiknya dikurangi. Jadi mau tidak mau panier dan sebagian besar barang yang berat dipindahkan ke Cappuccino.
  • Karena sudah malam kami memutuskan untuk lebih baik tidur di kota kecil ini saja untuk malam ini karena semua sudah kelelahan. Ternyata hotel di sana bukan untuk standard foreigner. Hanya ada 1 hotel yang bersedia untuk menerima kami. Kami pun makan malam terlebih dahulu sebelum semua tempat makan tutup. Setelah selesai makan, check in hotel…, namun sang pemilik hotel tsb menolak karena baru saja ada polisi yang datang untuk mengecek keberadaan kami. Jadi ternyata saat kami ke hotel tsb sebelum makan sudah ada yang melapor ke polisi bahwa ada orang asing yang akan menginap di hotel, karenanya polisi langsung datang. Untungnya kami sedang makan sehingga si pemilik hotel selamat. Kalau tidak, mereka mesti shut down / tutup minimal selama 1 bulan.
  • Kami semua terduduk bingung. Karena jarak ke kota berikutnya yang bisa menerima foreigner di hotelnya berjarak hampir 200 km. Saat itu sudah pkl 10.30 malam. Motor Colby tidak bisa ditunggangi karena jalanan menuju kota berikutnya mesti melewati banyak tanjakan dan turunan. Kami numpang duduk di restaurant muslim yang kemudian si bapak pemiliknya justru mau memberikan bantuan mencari mobil untuk mengangkut motor Colby. Tengah malam si bapak berusaha menghubungi beberapa temannya dan berhasil meskipun mesti membayar lumayan mahal lagi untuk sewa pick up, dan selamatlah kami malam ini bisa melanjutkan perjalanan meskipun kami semua sudah sangat lelah. Paling tidak kami bisa tidur juga. Karena jika mesti memasang tenda lagi dalam situasi seperti ini…, rasanya sudah tidak sanggup. Hotel yang berjarak 200 km tsb cukup worth it dikejar, karena lumayan bagus, bintang 4 dan sangat nyaman…., jauh lebih nyaman dari hotel kecil di kota sebelumnya. Kami masuk kamar tanpa membawa barang apapun dan langsung tidur. Untung ada Brenda yang mengurus administrasi hotel.
  • Esoknya, kami malas bangun dan check out. Rasanya ingin menginap 1 malam lagi. Namun Brenda berkeras kami mesti bergerak maju karena visa kami hanya tertinggal beberapa hari lagi, sementara jarak hingga ke perbatasan masih jauh. Setelah tawar menawar waktu, akhirnya kami sepakat berangkat setelah makan siang yang kemudian menjadi pkl 3 sore.

 

Keputusan Tidak Terduga yang Harus Kami Ambil

  • Karena jalannya sudah relative datar tanpa pegunungan/perbukitan lagi, motor Colby terlihat sudah mulai normal. Namun ini ternyata hanya bertahan 1,5 hari. Setelahnya motor kembali bermasalah. Kali ini tidak ada pilihan, motor mesti diangkut sampai ke Kashgar karena jika terus bermasalah pasti akan jadi overstay.
  • Berbagai pilihan yang tersedia sangat tidak menguntungkan, karena jika dibawa dengan kereta hingga kashgar pasti akan lebih cepat, namun baterai dan aki motor mesti dicabut sesuai aturan mereka. Colby tidak bersedia karena akan merusak motornya. Jika sewa truck atau pick up sudah pasti akan sangat mahal karena masih berjarak lebih dari 2.000 km. Pilihan terbaik saat itu adalah mengirim motor lewat cargo. Memang mahal juga, tapi relative lebih murah dibanding menyewa pick up khusus ke Kashgar.

 

  • Selain itu Colby juga mesti mencari plat kopling untuk motornya dan setelah menelpon ke beberapa tempat di Australia, Kuala lumpur dan Vancouver, akhirnya didapatlah alatnya tsb. Masalah selanjutnya, barang mesti sudah sampai dalam waktu kurang dari 1 minggu. Selain alatnya yang mahal, biaya pengirimanpun lumayan mahal juga karena mesti menggunakan DHL dan mesti express. Rasanya tidak tega melihat kepusingan Colby.
  • Karena tidak ingin kehilangan bagian akhir perjalanan di China, Colby akhirnya ikut dengan mobil kami dan Brenda terpaksa menggunakan kereta langsung menuju Kashgar. Sebenarnya keputusan ini sangat beresiko mengingat guide mesti selalu bersama kami terlebih kami akan memasuki wilayah Xinjiang Province yang sangat sensitive dimana akan banyak checkpoint pemeriksaan yang mesti kami lalui. Brenda sebenarnya juga protes dengan keputusan ini, cuma memang pilihannya serba sulit. Bagi Colby sendiri, dia akan jauh lebih nyaman jika jalan bersama kami karena memang rasanya kami seperti sudah menjadi keluarga terlebih ada bagian menarik yaitu camping di areal desert yang sayang jika dilewatkan.

 

XINJIANG PROVINCE

Melanjutkan Trip Tanpa Guide!

Ini merupakan salah satu provinsi yang membuat kami cukup tertekan dan sering merasa sangat tidak nyaman dimulai sejak masuk ke dalam wilayah provinsi ini. Jauh hari sebelum masuk, Brenda sudah menjelaskan sejumlah hal yang akan berbeda saat di provinsi ini, bahwa pengurusan ijin trip kami untuk masuk wilayah ini lebih rumit dan mahal, bahwa akan banyak pos pemeriksaan sepanjang jalan, bahwa untuk membeli bensin pun bahkan membutuhkan identitas pembeli/KTP, tanpa hal tersebut tidak akan dilayani. Saat kami tanyakan, mengapa mesti seperti itu, kenapa berbeda dengan provinsi lainnya? Brenda hanya menjawab bahwa di provinsi ini banyak terjadi pergolakan dan karena provinsi ini bersentuhan dengan beberapa negara lain sehingga sangat sensitif dan mudah terjadi pergolakan, sama seperti Tibet. Penjelasannya sangat aneh, namun kami tidak bisa bertanya lebih lanjut karena Brenda juga kelihatannya kesulitan menjawab rasa penasaran kami dengan jawaban yang bisa memuaskan karena jawabannya selalu berputar tidak jelas, sehingga kami lebih memilih diam. Toh ada Brenda yang akan membereskan permasalahan tsb selama kami di wilayah ini.

Kondisi perjalanan kami kemudian memaksa situasi berubah akibat motor Colby yang bermasalah, hingga akhirnya Colby memutuskan mengirim motornya langsung ke Kashgar dan membeli kopling baru dari Malaysia dan barangnya langsung dikirim ke Kashgar juga. Dengan harapan saat di Kashgar dan semuanya sudah sampai, motor bisa diperbaiki di sana.

Colby tidak mau kehilangan bagian terakhir dari perjalanan ini karena sudah membayar cukup mahal untuk bisa masuk China, terlebih bagian terakhir ini merupakan areal dessert yang menurutnya paling eksotis, sehingga pilihan yang ada adalah meminta Brenda naik kereta langsung ke Kashgar sehingga Colby bisa duduk di mobil kami mengganti posisi Brenda. Jika Brenda tetap di mobil kami dan juga Colby ikut di mobil kami, akan sangat tidak nyaman karena penuh sesak. Tentu saja pilihan ini ditentang Brenda sejak awal, karena menurutnya kan bermasalah saat melewati pos pemeriksaan dan akan membuat kesulitan saat membeli bahan bakar. Namun, kami semua sudah sepakat bahwa kami akan mencoba dulu kemungkinan ini, jika tidak berhasil, barulah Colby bersedia bertukar tempat dengan Brenda, dia yang akan naik kereta ke Kashgar.

Repotnya check Point dimana-mana!

Ternyata pos pemeriksaan memang lumayan mengesalkan karena selalu ada setiap 100-150 km perjalanan dengan sejumlah polisi yang selalu bersiaga penuh. Mengesalkan karena kadang memakan waktu minimal 30 menit, kadang hingga 2 jam tergantung kondisi penjaganya. Di setiap pos pemeriksaan biasanya kami semua mesti turun dari mobil, passport kami dikumpulkan termasuk kertas dari travel agent China yang menjelaskan tentang trip kami. Semua data tsb akan mereka foto, kadang mereka juga memfoto kami. Biasanya mereka akan menanyakan beberapa pertanyaan aneh seperti selama di Xinjiang akan kemana saja? Berapa lama dan lain-lain. Biasanya kami jawab dengan bantuan google translate (teknologi memang sangat memudahkan J). Jika pertanyaan masuk pada “mengapa tidak ada guide pendamping?”, maka kami langsung telp Brenda untuk menjelaskan bahwa karena motor Colby rusak maka dia mesti mengurus pengiriman motor ke Kashgar.

Jika petugasnya agak lamban dan kurang gesit atau bingung (karena tidak terbiasa berhadapan dengan orang asing, memang foreigner sangat sedikit yang masuk ke wilayah Xinjiang, umumnya mereka hanya menangani warga lokal) maka sudah bisa dipastikan kami butuh waktu lebih lama di pos pemeriksaan tersebut. Tapi umumnya petugas cukup ramah dan tidak mempersulit kami, mereka lebih waspada pada warga lokal terutama dari etnis Uighur.

Beli Bensin Harus Tunjukkan Kartu Identitas!

Kesulitan lainnya adalah saat membeli bahan bakar. Saya sempat takjub melihat pom bensin di wilayah ini dipasang kawat berduri ditambah besi tajam di gerbang yang bisa menggembos ban mobil jika kita tetap memaksa masuk. Pintu masuk maupun keluar pom bensin dijaga ketat oleh polisi lengkap dengan jaket anti peluru. Untuk masuk, kita mesti menempelkan ID card lokal barulah gerbang bisa terbuka. Karena kami tidak memiliki ID card lokal, tentunya mereka menolak kami untuk masuk. Jadi setiap membeli bensin, kami mesti terlebih dahulu “rebut” dengan supervisor di POM bensin tersebut, jika sang supervisor mengalah barulah kami bisa masuk untuk membeli bahan bakar. Kadang sang supervisor menelpon terlebih dahulu pihak pos pemeriksaan untuk memastikan kami masuk dalam golongan “aman” baru bersedia memberikan ihin kami unyuk membeli bahan bakar. Jika sang supervisor tidak mau repot mengurus kami, kami diminta untuk pergi ke pos polisi terdekat untuk kemudian polisi memberikan lampu hijay pada snag supervisor melalui telp, barulah kami bisa masuk pom bensin.

Benar-benar menguras kesabaran kami, terlebih jika berhadapan dengan supervisor atau pun pihak polisi yang tidak peduli. Kebayang aja bagaimana rasanya menjadi penduduk lokal di wilayah ini, terutama jika berasal dari etnis Uighur yang pasti lebih ditekan dan tentunya membuat mereka sangat tertekan.

Untungnya kami dimudahkan sepanjang perjalanan karena terus menerus menggunakan jalan tol yang meskipun sangat mahal namun relative mengurangi ketegangan saat membeli bahan bakar (karena praktis kami hanya membeli 4x bahan bakar sepanjang jalan hingga sampai Kashgar). Masalah yang timbul hanya jika kami kehabisan air minum atau makanan karena di jalan tol hampir tidak ada warung atau pun restoran. Minuman dan makanan yang ada di dalam pom bensin tidak bisa kami akses seenaknya, karena tetap mesti rebut lagi dengan supervisor pom bensin tsb untuk bisa masuk membeli air minuman atau pun makanan kecil.

Tidak Bisa Memiliki Akses yang Bebas

Kami mengetahui bahwa Xinjiang adalah wilayah yang sensitif namun belum benar-benar menyadari seberapa sensitifnya situasi di sana. Sulitnya lagi, selama kami di China sebelum masuk wilayah Xinjiang, kami tidak bisa/punya akses yang mudah untuk browsing tentang situasi di wilayah tersebut. Inilah hebatnya China, akses informasi dan komunikasi bisa di blocked dengan mudah. Informasi yang bisa kami dapat hanya yang “aman” untuk diakses dan bukanlah informasi yang sesuai dengan kondisi lapangan. Bahkan HP saya tidak bisa digunakan sebegitu masuk wilayah Xinjiang. Wechat tidak bisa digunakan terlebih whatsapp, terlebih lagi browsing, semua seperti ter-blocked. Untung HP Eelco masih bisa digunakan mungkin karena menggunakan VPN sejak awal, jadi kami aman. Kalau tidak, betapa repotnya untuk kontak Brenda yang jauh dari kami. Anehnya, begitu keluar dari wilayah ini dan masuk Kyrgyzstan, saya berganti SIM card lokal Kyrgyzstan, secara otomatis HP saya berfungsi normal kembali.

TURPAN

Saat di Xinjiang, meskipun saat di interview di pos pemeriksaan kami selalu menjelaskan hanya akan Turpan, mampir ke one thousand Buddha cave dan Kashgar, namun kami sudah berencana untuk mampir di Turpan, Korla dan Akesu, barulah ke Kashgar mengingat jauhnya jarak jika dari Turpan langsung ke Kashgar. Korla dan Akesu hanya untuk menginap dengan menggunakan tenda di lokasi yang menurut Brenda sangat cantik. Yang satu kami bisa menenda di tepi danau yang indah, tempat berikutnya menenda di tempat yang menyerupai grand canyon. Ini pilihan yang jauh lebih baik daripada kami tidur di mobil, di pinggir jalan tol J

Untuk tidur di Turpan sama sekali tidak masalah, karena kami menginap di hotel “internasional” yang artinya memiliki ijin untuk menerima orang asing. Hotelnya sendiri sangat basic, tua dan berdebu. Sangat jauh dari kata nyaman. Meskipun hotel tua namun tetap menggunakan x-ray untuk masuk. Saat di Turpan polisi ada di manapun kita melihat. Untuk setiap ruas jalan, ada 2 mobil polisi yang terus mondar-mandir di ruas jalan tersebut. Di toko atau restoran yang kami masuki, selalu ada petugas yang menggunakan tanda merah yang ditempel di lengan baju mereka, pertanda staff tsb merupakan bagian dari sejenis pam swakarsa. Jika ada masalah, keributan atau hal yang mencurigakan, mereka akan langsung turun menangani. Jadi mereka sudah dilatih dengan minimum kemampuan untuk hal tsb. Ini untuk membatasi ruang gerak pergolakan.

Turpan sendiri kota yang sangat windy dan berdebu. Buah-buahan berlimpah, juga sejenis kismis dari anggur atau buah peach yang dikeringkan sangatlah murah. Kami menyempatkan mampir ke pertanian anggur dan melihat sistem irigasi kuno yang sangat bermanfaat bagi kota hingga kini. Bagus bagi anak-anak melihat sistem irigasi tersebut.

Ingin Mencari Hotel Malah Nyasar ke Military Base

Setelah mampir ke tempat tsb, kami langsung melanjutkan perjalanan menuju Korla. Brenda sudah memberikan lokasi yang cocok untuk kami menenda di tepi danau Korla. Jadi nanti kami mesti keluar dari jalan tol untuk ke lokasi tsb. Juga kami diingatkan bahwa lokasi tsb sangat dekat dengan militer base, jadi kami mesti hati-hati supaya tidak masuk ke lokasi yang salah.

Kami keluar jalan tol sudah menjelang sore, kami putuskan untuk mampir di restoran untuk makan malam terlebih dahulu baru mencari lokasi untuk menginap. Makan di situ lumayan enak dan murah, kami memesan skewer, tumis sayuran, tumis daging dan kentang.

Selesai makan, kami mulai mencari hotel yang diberitahu Brenda via share location WhatsApp. Yang aneh, lokasi justru malah mengarah ke militer base. Tentu saja kami langsung cepat-cepat putar arah dan menghubungi Brenda lagi. Brenda berkeras lokasi yang dikirimkan tsb benar. Kami mencoba berputar dan melihat jalan tanah yang bisa jadi kea rah militer base tsb. Jalan yang kami ikuti tsb menjadi becek dan tanahnya terasa lunak. Bagian kanan jalan berupa petakan pertanian yang ridak digarap sehingga penuh lumpur dan kiri jalan berupa sungai kering yang cukup curam dan tidak bisa dilalui. Di seberang sungai sebenarnya jalan besar dan beraspal, namun kami tidak bisa mengakses jalan tsb karena mesti melalui sungai curam tsb. Hari sudah semakin gelap dan gerimis pun mulai turun. Saya sudah mulai cemas karena jika hujan semakin besar, jalan tanah ini akan berubah menjadi lumpur, khawatir Capuccino akan stuck L. Colby yang saat itu menyetir setuju untuk balik arah, kembali lagi. Mungkin jika terpaksa kami tidur sambil duduk di dalam mobil karena tidak ada pilihan untuk tidur di hotel di kawasan ini.

Namun justru saat berbalik arah, karena jalannya sudah semakin lunak, Capuccino stucked dan meskupun sudah dicoba dengan berbagai cara termasuk menggunakan 4WD, justru ban semakin masuk lebih dalam lagi. Untungnya Colby sangat biasa menggunakan mobil di kondisi seperti ini, jadi sikapnya cukup tenang dalam mencoba semua cara. Colby dan Eelco sudah dipenuhi lumpur badan sekaligus tangannya, anak-anak sudah tertidur pulas di mobil. Saat kami hampir menyerah, tiba-tiba dari seberang sungai ada mobil berhenti dan orang dari mobil tsb bertanya dengan setengah berteriak, “Ada masalah apa?” (tentu dalam bahasa China). Kami terkejut karena mobil yang berhenti tsb mobil jeep militer dan orang yang berteriak itu menggunakan seragam militer. Waduh, ini kan memang militer base dan seharusnya kami tidak boleh ada di lokasi ini. terlebih jika mereka tahu kami sedang mencari tempat untuk memasang tengda, akan lebih runyam lagi. Karena kami tidak bisa menjawab dalam bahasa China dan mereka kelihatannya curiga pada kami, jeep tsb berputar mengikuti arah sungai dan kemudian turun melintasi sungai di bagian yang tidak begitu curam sekitar 500 m dari lokasi kami. Kami semua bingung dan saling bertukar pandang, cemas.

Saat jeep sudah dekat dan 3 orang bapak militer turun dan berbicara dalam bahasa China. Kami menjawab dalam bahasa Inggris yang tentunya gak nyambung. Si bapak mengeluarkan HP-nya dan menyalakan translator untuk memudahkan kami berkomunikasi. Karena tangan kami semua kotor, maka tanya jawab dibuat menggunakan voice dan si bapak membaca percakapan lewat tulisan China. Saat ditanyakan mengapa kami ada di lokasi tsb malam-malam, Colby menjawab bahwa kami adalah turis dan ingin melihat danau di dekat lokasi tsb tapi kemudian mobil stuck.

Celakanya, tulisan di HP justru jadi berbeda, Colby membaca bahwa tulisan jadi kami adalah spy dan ingin melihat danau. Oops, Colby langsung panic dan dengan bahasa tubuh menjelaskan translator itu salah. Bagaimana mungkin “turis” jadi “spy”. Oh my god, bisa panjang urusannya.

Untungnya si bapak tadi baik dan memahami mesin translator itu bisa salah. Mereka memeriksa di dalam mobil ada anak-anak yang sedang tertidur pulas dan dari perlengkapan yang kami bawa jelas menggambarkan bahwa kami memang “stupid tourist in the wrong place”

Mereka bersedia membantu kami menarik Capuccino keluar dari medan berlumpur tsb dengan jeep mereka dan menegaskan kami mesti segera keluar dari lokasi tsb. Mereka memberikan lokasi yang bisa kami capai untuk ke tepi danau. Cuma butuh waktu 30 menit dengan bantuan mereka, kami berhasil keluar dari medan berlumpur dan ikut menyeberangi sungai untuk bisa masuk ke jalan besar di seberang sungai. Kami mengucapkan banyak terimakasih dan langsung meluncur ke lokasi yang di berikan si bapak militer tadi.

Namun setiba kami di lokasi, ternyata sudah ditutup karena itu tempat wisata dan saat kami tiba sudah pukul 12 tengah malam. Penjaga yang masih muda di sana sangat baik dan ramah, mereka mengijinkan saya dan Raneeshya tidur di dalam gudang kosong milik mereka, sementara Eelco dan Tyo bisa tidur di mobil dan Colby melepas stress dengan minum-minum bersama para penjaga tsb sampai pagi. Saya lihat foto-foto mereka bercanda semalaman menggunakan beberapa atribut polisi yang ada di sana, what a funny night J. At least Colby lega bisa terlepas dari masalah dengan bapak-bapak militer. Bayangkan jika mereka tegas dan galak, bisa jadi saat ini kami masih berada di ruang interogasi dan anak-anak menangis ketakutan. Kami beruntung sekali bisa lolos saat itu.

😀 Ikuti terus perjalanan kami..

jangan lupa subscribe channel kami di Youtube -> Journey of Wonder

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *