Iran – Part 17

Iran

Banyak cerita yang disuguhkan pada kami tentang Iran. Hampir semua bernada “miring”. Tentang teroris, tentang sikap penduduknya yang kurang ramah, dllnya. Tapi justru ini yang membuat kami semakin ingin mengunjungi Iran, untuk bisa lebih tau dengan jelas, bukan berdasarkan β€˜katanya’.

Untuk masuk Iran dengan menggunakan Mobil/overland, sudah jelas akan susah untuk masuk. Topik tentang ini banyak dibahas para overlander. Bahkan per bulan Juli 2018 motor dengan CC besar juga sulit untuk masuk. Teman kami Colby pun sangat ingin masuk Iran, namun tidak berani mengambil resiko, jika sudah keluar dari Turkmenistan namun tidak boleh masuk Iran…, Trus mesti bagaimana? Jadi banyak yang mengurungkan niatnya.

Bagi kami yang terpenting, urus dulu visa nya. Jika berhasil, maka kami siapkan plan B di mana jika kami sudah keluar Turkmenistan dan tidak bisa masuk Iran, mesti bersiap untuk tetap masuk (karena toh kami sudah dapat visa nya). Cappuccino bisa ditarik / digendong dengan truk hingga ke next border. Kami bisa tetap explore Iran dengan menyewa mobil. Dan… visa Iran ternyata berhasil kami dapatkan. Jadi tinggal nanti deg-degan pas di border aja, mudah-mudahan Cappuccino bisa lewat juga.

Saat melewati Turkmenistan butuh 2 jam, selain antrian, juga karena mereka memang relatif lamban dalam bekerja selain juga mereka jarang menghadapi turis melalui rute tsb, jadi pastinya mereka canggung dan banyak periksa ini itu πŸ˜€. Masuk ke imigrasi Iran, kami lumayan tegang. Persis seperti saat melewati border Thailand. Mesti menunggu cukup lama, karena petugasnya sholat. Setelah passport Kami di stamp, sekarang giliran passportnya Cappuccino yang mereka cek. Petugasnya berbeda. Iran negara yang menerapkan Carnet, jadi wajib hukumnya untuk memiliki carnet.

Setelah berhadapan dengan petugas, kami baru mengetahui bahwa sang petugas saat ini tidak masuk karena hari Jum’at mereka off. untungnya ada staff lain yang mau membantu. Lebih dari 3 jam kami diliputi ketegangan, karena petugas pengganti ini sama sekali tidak paham tentang carnet dan tidak bisa bahasa Inggris pula, Jadi bolak balik telp pada temannya. Setelah lebih dari 4 jam dan sang petugas cek Cappuccino, dia pun menyatakan status ok. Kami begitu lega. Segera masuk mobil dan keluar imigrasi secepatnya sebelum sang petugas berubah pikiran 😁. Begitu lega dan happy nya, sampai lupa/tidak sadar bahwa kami belum mengurus asuransi mobil yang wajib ada. Hal ini pun benar-benar terlupa. Hingga saat keluar Iran sebulan kemudian, barulah kami tersadar selama sebulan keliling Iran tanpa asuransi πŸ˜€.

Saat keluar border Turkmenistan-Iran, kami ditawari untuk tukar $ yang jelas2 black market. Harga yg ditawarkan sangat menggiurkan. 1$ = 130.000. harga resmi 42.000, jadi 3x lipatnya. Karena khawatir dengan tawaran tsb, kami hanya tukar secukupnya yang penting cukup hingga hari senin. Ternyata memang umumnya orang tukar di black market yang ada di banyak sudut kota.

Planning Kami, saat masuk Iran akan langsung ke Mhasshad dan explore kota tsb untuk 3-4 Hari. Namun karena sudah terlalu sore, hari itu kami terpaksa menginap di Kota kecil….

Yang sulit di Iran adalah sulitnya mencari hotel dan sejumlah kenyamanan lainnya. Tidak ada booking.com, air BnB, dll. Mereka sedang menghadapi embargo dari Amerika dan teman-temannya, yang mengakibatkan mereka seperti terisolir. Juga jangan berharap bisa menggunakan credit card atau pun kartu debit. Jadi bagi turis, memang mesti sepenuhnya siap dengan uang cash.

Namun, percayalah Iran sangat worth it untuk dikunjungi dan merupakan salah satu negara favorit kami hingga kini setelah mengunjungi sejumlah negara.

Mashhad

Mashhad merupakan holy city dan kota yang cukup besar. Saat masuk kota mhassad, Kami begitu terkejut dengan begitu melimpahnya pengunjung di kota ini. Mendapatkan hotel punya seni tersendiri. Kami mesti pasang mata pada orang-orang yang berdiri di pinggir jalan. Jika ada yang memegang kertas/karton bertuliskan suite (dalam tulisan Arabic), atau terkadang mereka menawarkan langsung (kurang lebih seperti di puncak dengan bapak-bapak dengan tawaran villa… Villa nya 😁).

Alamout Valley

Tak banyak orang yang mengetahui tentang Alamout Valley yang terletak di pegunungan Alborz. Landscape disini benar2 membuat kami takjub, menyerupai gabungan pegunungan patagonia di musim panas dan outback nya Australia dengan bumbu sejarah abad pertengahan yang sangat menarik.

Alkisah seorang pemuda bernama Hasan I Sabah yang bersekolah hingga ke Egypt, kembali ke Alamout Valley pada awal masa Islam di 1090 AD. Pemuda Hasan kemudian mengembangkan Islam Ismaili Syiah di sini namun ditekan oleh petinggi Seljuk Turkey (menganut Islam Sunni) yang saat itu menguasai kawasan Persia.

Secara perlahan Hassan I Sabah membangun pendukungnya sambil bekerja sebagai guru di kastil milik Raja Dayam. Pendukungnya pun pelan-pelan ikut masuk dan ikut bekerja di Kastil tersebut. Hingga suatu saat, mereka melakukan kudeta dan mengambil alih Kastil.

Setelahnya Hasan I Sabah mengembangkan dan memperkuat kastil/fortnya agar mampu bertahan jika menghadapi serangan dari luar serta mengembangkan sistem pertanian dengan teresering dan juga pengetahuan tentang astronomi.

Jadilah kastil ini menjadi pusat ilmu pengetahuan dan banyak ilmuwan dari berbagai belahan dunia datang untuk belajar dan berdiskusi di sini.

Setelahnya Hassan I Sabbah membuat / membentuk jaringan untuk melawan penguasa Seljuk Turkey di sekelilingnya. Grup-grup yang dibentuk ini dikenal sebagai Hashshashin atau assassin (English). Para assassin ini mempelajari target strategies yang akan didekati. Mempelajari bahasanya dan budayanya kadang hingga bertahun-tahun. Para assassin ini diyakinkan bahwa mereka akan masuk surga jika berhasil.

Jadilah para assassin ini menyamar masuk ke dalam lingkungan kota yang beragama Islam Sunni dan perlahan mendekati petinggi di target / tempat tsb, kemudian membunuhnya, sehingga sangat ditakuti saat itu.

Kastil ini sekarang lebih dikenal sebagai ‘the castle of the assassins’.

kerajaan Mongol yang sebenarnya bersahabat dengan para Assassin, menyerang Baghdad. Ini membuat para Assassin marah dan memutuskan untuk membunuh cucu Jengis Khan yg menyerang Baghdad. Mereka tidak berhasil dan justru kemudian di tahun 1256, Kastil dan semua fort nya diserang oleh Mongolia Dan dihancurkan.

Sangat disayangkan Karena hasil penelitian dan perpustakaan yg begitu lengkap, Saat ini tersisa menjadi reruntuhan.

Selama Di Alamout Valley, kami menyempatkan untuk mampir di Ambu village. Saat masuk desa Ambu, sejumlah crew film mencegat kami dan salah satu dari mereka langsung ngoceh panjang lebar tanpa kami paham maksudnya apa, lumayan bingung tapi situasinya sangat kocak.

Ibu produser film yang bisa berbahasa Inggris, kemudian bercerita bahwa mereka sedang membuat film tentang desa Ambu namun dengan pendekatan untuk anak-anak sehingga banyak sisi komedi yang diangkat. Dan bapak yang nyerocos itu adalah salah satu artis komedian Iran. Bapak itu hanya iseng ngerjain kami πŸ˜‚πŸ˜‚. Selayaknya para crew film, semuanya heboh dan asyik.

Saat itu shooting film langsung stop dan jadilah kami menjadi bintangnya. Semua ingin foto bersama kami πŸ˜‚πŸ˜‚.

Desa Ambu sendiri sangatlah unik. Konstruksi bangunan rumah disini mengikuti kontur tanah dan terbuat dari kayu. Penduduknya begitu ramah, seorang bapak bahkan menunggu lama saat kami ngobrol dengan crew film. Saat kami beranjak, sang bapak meminta kami untuk mampir ke rumahnya yang sangat nyaman. Keramahan khas Iran J

Ali Saadr Cave

Saat mampir di KBRI, Pak Aji memberikan sejumlah lokasi menarik yg layak utk dikunjungi, dan salah satunya adalah Ali Saadr Cave.

Lokasinya terletak 100 km dari Hamedan, bagian barat Iran dan merupakan the world largest water cave.

Jadilah kami masukkan cave ini kedalam itinerary kami selama di Iran, dan memang tempatnya sangat worth it.

Meskipun anak2 sudah beberapa Kali masuk gua, tempat ini tetap bagus bagi anak-anak untuk memahami kehidupan di bawah tanah.

Suhu di dalam gua selalu stabil di 12⁰C, baik di musim panas maupun musim dingin. Sungai yang mengalir di dalamnya ada yang hingga kedalaman 14 m dan asking beningnya, kita bisa melihat sungai hingga dikedalaman 10 m.

Air yang melimpah di sungai ini berasal dari air hujan dan mata air yang terdapat di dalam gua. Air dari mata air ini sebagian langsung mengalir ke dalam sungai bawah tanah sebagian lagi merembes lewat dinding gua dan masuk ke sungai bawah tanah. Stalaktit, stalakmit, dan berbagai ornament gua terawat baik dan sangat indah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *