• KYRGYZSTAN
  • Setelah dari China, perjalanan kami lanjutkan menuju Kyrgyzstan. Tidak seperti border-border sebelumnya yang sudah kami lalui yang umumnya sangat dekat, ternyata jarak antara border kedua Negara ini lumayan juga. kami mesti melalui areal tak bertuan yang cukup jauh, rasanya hampir 100 km. Namun meskipun berjarak lumayan jauh, kami sangat menikmati rute tersebut karena dikelilingi pegunungan dengan berbagai gradasi warna yang indah dan dingiinnya luar biasa. Kami cek saat itu temperature 11⁰C dengan angin yang sangat kencang. Jalan menuju Kyrgyzstan sangat mulus dan kosong melompong. Rasanya seperti keindahan ini hanya milik kami sekeluarga Hampir 1.5 jam setelahnya barulah kami masuk wilayah Kyrgyzstan dan bordernya terletak di ketinggian 3.500 mdpl. Dinginnya bbrrrr, hampir tidak sanggup keluar dari Cappuccino yang hangat karena kami nyalakan AC di temperature 30⁰C.

 

  • Saat masuk gerbang Kyrgyzstan, Nampak sejumlah tentara Kyrgyz bertubuh tinggi tegap dan berwajah Eropa menyambut kami. Mereka sangat ramah dan welcome, sangat berbeda dengan wajah tentara China yang ‘dingin’. Cukup lama kami tertahan di imigrasi untuk mengurus surat-surat masuk Cappuccino. Bukan karena ada masalah, hanya karena kami mesti mengantri di belakang truk-truk gandeng besar lintas Negara. Yang saya maksud truk gandeng ini bukanlah ukuran kecil, tapi truk dengan 24 ban, kebayang kan gedenya. Hampir 2 jam di tempat tersebut membuat Eelco jadi akrab dengan beberapa sopir truk gandeng tsb. Yah.. Namanya juga sesama sopir lintas Negara Kyrgyzstan tidak mengenal carnet, jadi kami hanya membayar 15$ atau 1.000 Som Kirgistan (± Rp 225.000,-) untuk administrasi. Setelah membayar, petugas akan memberikan bukti bayar. Bukti bayar tersebut mesti disimpan untuk diperlihatkan saat keluar Kyrgyzstan. Simple cuma lamaaa, karena antri.

 

  • Keluar dari border sudah lumayan sore. Para sopir truk gandeng sudah mengingatkan Eelco, desa pertama cukup jauh dari border, sekitar 70 km. Jadi mesti ngebut supaya gak kemalaman. Tapi ya gimana mau cepat pemandangannya indah begini, Eelco sebenarnya penggemar photography, jadi mana mungkin dia bisa ngebut menuju desa tsb. Setiap 15-20 menit pasti berhenti untuk mengambil foto pemandangan yang subhanallah

 

  • Akhirnya kami sampai juga di desa yang dimaksud. Tidak ada restaurant/warung makan. Cuma melihat sebuah warung kelontong yang nyaris terlewat karena tidak menyerupai toko, lebih mirip rumah yang ada barang dagangan terlihat di dalam. Jadi jika tidak pelan-pelan, sudah pasti warung ini pun terlewat.
  • Kami tidak mempunyai makanan hangat sama sekali, hanya ada beberapa jenis biscuit. Sementara anak-anak selalu lebih senang makanan hangat saat malam hari. Untungnya diwarung tsb ada sejenis indomie, telor, bawang Bombay dan paprika. Lumayan untuk melewati malam ini bisa tidur dengan perut yang hangat.

 

  • Setelah belanja, kami bergerak perlahan keluar desa tsb sambil mencari lokasi yang cocok untuk membuka tenda. Biasanya kami berusaha keluar dari jalan utama dan mencari lokasi dengan pemandangan yang indah. Kebetulan dapat yang bagus, naik sedikit ke perbukitan sehingga bisa melihat kerlip lampu desa tsb dan kerlip bintang di sekitarnya. Memasak dengan menggigil kedinginan (temperatur mencapai 5⁰C) ….. bbrrr. Tak apalah, demi anak-anak happy.

 

  • Paginya kami bangun saat masih melihat warna jingga di ufuk begitu cantiknya. Hari ini rencananya kami akan mengejar menuju Cholpon Ata untuk menyaksikan World Nomad Games 2018, event tahunan yang sangat bergengsi bagi kaum nomad di central asia. Perjalanan menuju Cholpon Ata cukup jauh, sekitar 380 km. Jika jalannya bagus, mungkin dalam waktu 4 jam kami sudah sampai. Sayangnya jalan di Kyrgyzstan tidak mulus. Dari cerita para overlander, akan membutuhkan waktu 7 jam untuk mencapai Cholpon Ata. Belum termasuk Eelco berhenti untuk ambil foto, pasti jadinya 10 jam.

 

  • Benar juga, kami sampai di Cholpon Ata sudah pkl 16.30 sore waktu setempat. Untungnya Kyrgyzstan baru gelap pukul 7 malam, jadi kami putuskan untuk langsung ke stadion tempat world nomad games berlangsung.

 

Sebagian besar warga Kyrgyzstan dan Tajikistan terkenal dengan gaya nomadnya. Ini karena sejak dari jaman leluhur mereka sudah seperti itu. The Silk Road atau jalur sutera melewati sungai-sungai, puncak, lembah dan pegunungan di kawasan ini sehingga menyuburkan gaya hidup atau budaya nomaden. Sejumlah kerajaan di masa lampau seperti Genghis Khan, Tamerlane dan Alexander the great melintasi kawasan ini dan memberikan warna dalam sejarah dan budaya Kyrgyzstan, yang sangat dijaga oleh mereka hingga kini. Bagian dari budaya yang masih mereka pertahankan sesuai dengan jiwa nomad mereka seperti eagle hunting, Kok-Boru, Er Enish, memanah dll.

 

World Nomad Games sendiri sebuah event olimpiade untuk para orang nomad yang benar-benar memperlihatkan jiwa dan kepribadian orang-orang nomad di Asia. Merupakan gabungan dari olahraga kaum nomaden yang menampilkan kekuatan, kecakapan dan ketangkasan dan dari dulu dipakai untuk latihan untuk perang. World Nomad Games pertama diselenggarakan di Cholpon Ata thn 2014 dengan mengundang banyak negara untuk bertarung menjadi yang terbaik.

 

Peserta yang ikut hingga 1200 peserta dari 62 negara. Saat ini yang kami tonton adalah World Nomad Games ke-3 yang hanya bisa kami saksikan di 2 hari terakhir kompetisi. Mungkin olahraga yang paling bergengsi di World Nomad games ini adalah Kok-Boru. Mirip dengan permainan polo, melibatkan 2 tim yang bersaing untuk melemparkan object ke dalam gawang bulat di ujung lapangan. Objectnya adalah bangkai seekor kambing. Sebenarnya ini paling kontroversial dan saya pun tidak tega menontonnya karena menggunakan hewan mati. Tapi game ini sudah dimainkan selama ber abad-abad oleh banyak negara di central asia. kambing ini nantinya diberikan pada tim pemenang untuk dimasak saat pesta kemenangan.

 

Namun saat kami menonton Kok-Boru secara langsung, rasanya sangat tegang dan permainannya rasanya agak brutal. Bayangkan 2 tim berebut 1 kambing dan mereka mesti melakukannya di atas kuda. Saat menarik kambing seberat 40 kg yang tergeletak di tanah dari atas kuda kebayang susah dan beratnya, kadang digempur oleh sejumlah pemain lawan hingga si pemain yang menarik kambing terjatuh dari kuda dan terhimpit di antara kuda pemain lawan. Bahkan sempat ada yang terseret oleh kudanya sendiri, rasanya benar-benar tidak tega dan lebih baik tutup mata. Tapi ini bagian dari budaya setempat yang terus mereka pertahankan selama ratusan tahun. Untuk jenis olahraga ini, para pemainnya benar-benar berbadan tegap dan kuat. Selama 3 tahun, Kyrgyzstan selalu menjadi pemenang jenis olahraga ini.

Jenis olahraga lainnya yang rasanya juga gak tega untuk saya tonton adalah Er Enish. Ini sejenis wrestling di atas punggung kuda. 2 orang pemain mesti berusaha menjatuhkan lawannya dari punggung kuda. Benar-benar membutuhkan skill, kekuatan dan ketangkasan. Kami sendiri kurang senang anak-anak melihat bagian ini.

Bagian yang bagus dan anak-anak suka adalah Salbuurun. Ini sejenis perburuan dimana para pemainnya menggunakan burung elang. Biasanya mereka menggunakan kulit fox yang ditarik dengan sangat cepat dan sang elang mesti bisa menangkap dari jarak yang cukup jauh.

Sebenarnya masih banyak lagi jenis kegiatannya, termasuk kegiatan budaya Kyrgyzstan yang sangat menarik seperti membuat yurt, memasak makanan khas mereka. Namun kami hanya bisa menghadiri 2 hari terakhir sehingga hanya sedikit yang bisa kami lihat.

Di hari kedua kami kembali bertemu Colby. Banyak cerita Colby tentang perjalanan 2 harinya untuk keluar dari Xinjiang dengan motornya yang terlambat datang. Sahabat Colby, Ally yang menjadi dosen di universitas di Kyrgyzstan juga ikut datang dan bergabung. Maka 2 hari di Cholpon Ata menjadi ajang cerita yang mengasyikkan.

Setelah World Nomad Games berakhir, kami bergerak menuju Bishkek, ibukota Kyrgyzstan. Ally ikut dengan kami karena Colby tidak memiliki extra helm. Dan untungnya Ally ikut bersama kami, karena sepanjang jalan kami dihentikan 3x oleh polisi akibat kaca depan Cappuccino gelap karena pakai kaca film, sementara di Kyrgyzstan max kaca film hanya 15%. Ally bisa berbicara bahasa Rusia dan Kyrgyzs, sehingga bisa menjelaskan bahwa kaca film tidak bisa kami lepas begitu saja, karena akan membuat kaca menjadi lengket. Untuk polisi pertama dan kedua kami bisa lewat tentunya dengan ‘amplop’ ke pak polisi (di Kyrgyzstan merupakan hal sangat umum, polisi mengentikan mobil dan kemudian kita mesti memberikan salam tempel).

Tapi setelah polisi yang ketiga kami putuskan untuk menghentikan hal ini. Bisa habis uang kami selama di Kyrgyzstan hanya untuk menyuap para polisi disini. Maka setelah sampai di Bishkek, hal pertama yang Eelco lakukan adalah melepas kaca film tsb dengan menggunakan blade cutter. Semestinya menggunakan steamer. Tapi di mana mencarinya di sini. Butuh waktu lebih lama dan melelahkan, tapi yang penting selesailah masalah ini.

  • Hal yang sangat aneh dan membingungkan adalah saat memesan hotel di Bishkek. Seperti biasa, kami pesan via Booking.com. Kami memesan unit apartemen untuk 3 hari pertama. Kami sudah menerima konfirmasi dari booking.com. Namun saat kami tiba di lokasi dan menelp ibu pemilik unit, si ibu kaget dan merasa gak memasang apartemennya karena saat ini dihuni oleh keluarganya. Dia memang pernah memasang dulu, tapi merasa itu sudah dibatalkan. Kami pun membatalkan pesanan tsb dan mencari hotel lainnya dan tetap mencari berupa unit apartemen. Saat kami sudah mendapat konfirmasi dari booking.com, kami langsung meluncur menuju lokasi apartemen tsb. Hal yang sama terjadi lagi, kali ini unit tsb sudah terisi dan baru kosong 2 hari setelahnya. Mereka gak mengerti juga tentang booking.com. Waduh, repot juga kalau begini terus. Kami putuskan selama di Kyrgyzstan untuk tidak lagi memesan via online. Lebih baik lihat langsung hotel dan jika cocok langsung masuk. Daripada repot mengurus pembatalan dan malah kami yang dirugikan.

 

Kami menghabiskan waktu cukup lama di Bishkek hingga 10 hari, karena begitu banyak yang mesti kami urus selama di Bishkek. Mulai dari mengurus sejumlah visa (visa Tajikistan, visa Uzbekistan untuk eelco, Turkmenistan, Iran), maintenance untuk Cappuccino dan mengganti ban (meskipun akhirnya ini kami tidak bisa mendapatkan ban yang ukuran velgnya sesuai untuk Cappuccino). Ada ban yang cukup sesuai, namun modelnya rasanya kurang kuat/sesuai untuk menghadapi afrika. Karena untuk menghadapi medan di Afrika kami membutuhkan bagian side wall yang lebih tebal. Meskipun Eelco sudah mampir ke beberapa tempat penjual ban. Eelco memutuskan untuk mengganti ban di Iran karena toh sebenarnya ban kami masih cukup bagus dan menurut orang Kyrgyz ban kami untuk di Pamir highway oke saja.

Setelah seluruh urusan visa selesai, perjalanan kami mulai kembali. Kami memutuskan untuk ke Jyrgalan Valley, areal pegunungan yang sangat indah menyerupai pegunungan Swiss. Lokasinya cukup terpencil dan jauh. Namun tempatnya sangat sesuai seperti harapan kami. Kami membawa Cappuccino hingga ke punggung pegunungan, dan camping selama 2 hari disana. Luar biasa rasanya bisa memandang pegunungan es yang terhampar luas dari jendela tenda kami.

Hari kedua di Jyrgalan Valley kami isi dengan trekking ke danau yang terletak 4 jam dari lokasi Cappuccino diparkir. Kami perhitungkan cukup waktu untuk kembali hari. Anak-anak begitu happy bisa trekking. Sepanjang perjalanan kami hanya bertemu 2 orang nomad yang sedang berjalan cepat menuju punggungan yang berbeda dengan kami dan 3 orang berkuda juga menuju danau. Mungkin karena musim sudah mulai berganti, hampir tidak ada turis lainnya yang kami temui. Para nomad dengan ternak dan yurt nya pun nampaknya sudah turun ke tempat yang lebih rendah, karena cuaca sudah semakin dingin saat malam hari.

Anak-anak begitu happy saat di satu titik bisa menemukan tumpukan salju. Meskipun dingin dan angin bertiup cukup kencang, mereka tetap asyik bermain salju. Mengingat waktu yang terbatas, kami putuskan untuk segera turun sebelum gelap. Cappuccino sudah menunggu manis dibawah. Anak-anak langsung berganti baju hangat dan masuk tenda dengan menggiggil kedinginan. Seperti biasanya, bagian yang kurang menyenangkan bagi saya dan Eelco adalah memasak dengan kondisi kedinginan. Jika menggunakan camper, akan nyaman sekali memasak di dalam mobil. Berada di ketinggian 3.900 mdpl, memasak dan menyiapkan makan malam sambil menggiggil kedinginan membuat saya bermimpi indahnya makan di warteg Indonesia, hangat dan siap saji.

Dari Jyrgalan Valley sebenarnya kami ingin trekking lagi di areal Altyn Arashan. Jarak dari Jyrgalan Valley hanya 3 jam. Namun setelah setengah perjalanan yang penuh berbatuan besar, sopir jeep setempat menghentikan kami dan menjelaskan bahwa Cappuccino tidak mungkin bisa tembus sampai ke atas, karena Jalan menuju keatas sangat berat dengan batu  batu yang besar dan hanya cocok untuk mobil jeep dengan chassis yg kecil dan ground clearance yang minimal 30 cm. Jika Cappuccino telah di modifikasi pun kami tetap tidak akan bisa lewat.

Batal naik ke Altyn Arashan, perjalanan kami lanjutkan ke Jety Oguz. Pegunungan dengan warna bebatuan yang sangat khas. Menginap 1 malam di antara bebatuan cantik ini, kemudian kami kembali keperadaban, menginap di Karakol. Kami mendapat guest house berupa rumah khas Kyrgyzstan yang sangat nyaman. Rumah terpisah dari rumah si pemilik. Ibu Fatima, sang pemilik rumah sangat baik dan ramah. Anak-anak juga merasa sangat nyaman untuk belajar dan bersantai dirumah tsb, sehingga kami putuskan untuk menginap 3 malam. Rasanya seperti kami berada di rumah sendiri di Jakarta yang bisa bebas masak, belajar, makan dan bersantai. Eelco bahkan sempat uji coba masak nasi dengan bumbu nasi goreng kemasan yang kami beli di Indonesia (cap boemboe) yang langsung dicampur dengan berbagai sayuran dalam 1 kali masak menggunakan rice cooker kecil. Dan rasanya, Yummy!!!

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *