KARAKOL

Belajar Berburu Menggunakan Elang dengan Sang Eagle Hunter

Bagian yang paling ditunggu oleh anak-anak adalah menyaksikan dan belajar tentang eagle hunter. Karena setelah menyaksikan para eagle hunter beraksi di nomad games, kami sudah menjanjikan mereka bisa belajar langsung dari ahlinya. Kami pun bertemu dengan Salavat AiBekov, sang eagle hunter. Salavat bercerita tentang kehidupannya yang memang turun temurun sejak dari buyutnya adalah eagle hunter, berburu dengan menggunakan elang. Salavat memiliki 3 ekor elang untuk berburu. Khusus untuk Hunting selalu dipilih elang betina, karena mempunyai kepak sayap selebar 2m. Elangnya memang sengaja dipilih yang besar karena sangat kuat, bisa menangkap rusa atau kambing gunung bahkan serigala/fox. Jarak pandang elang betina ini bisa hingga 3 km jauhnya.

 

Elang Salavat yang bernama Lighting Thunder ini bisa dengan mudah melihat target yang diburunya dari jarak 200 m jauhnya dan bisa menangkap target yang sangat lincah bergerak (misalnya: kelinci) dalam 1 gerakan cepat dari ketinggian. Namun saat Salavat ingin memperagakan elangnya menangkap kelinci yang masih hidup, kami langsung serentak menolak “NO”. Kasihan kelincinya L. Salavat tertawa… (yah, maklum Salavat kan Nomad, eagle nya selalu senang menangkap dan memakan makanan yang masih hidup). Untungnya dia membawa kulit fox, maka kami bisa tetap melihat elang nya yang begitu tangkas menangkap kulit fox yang ditarik oleh Salavat pakai tali dari jarak 100 m lebih.

Saat Salavat menawarkan kami untuk memegang dan mengangkat Lightning Thunder dengan lengan, kami langsung mauuuu J Lightning Thunder lumayan berat, sekitar 5 kg. Namun saat kita gerakkan lengan agar Lightning mengepakkan sayapnya…. Wow! Rasanya luar biasa. Luar biasa takutnya.

Salavat juga dengan sabar mengajarkan teknik memanah dengan menggunakan busur tradisional yang pendek yang khusus untuk digunakan di atas kuda. Salavat bisa dengan luwes memanah sambil berlari dan bergerak membelakangi target. Bahkan bisa memanah dari atas kuda yang bergerak dalam kecepatan tinggi. Ya iyalah, dia kan juara di Nomad Games J. Sayang kudanya tidak ada, padahal pengin melihat gayanya memanah dari atas kuda yang bergerak. Buat saya, memanah dengan menghadapi target saja sudah lumayan susah. Dari 10 anak panah, hanya 2 yang masuk ke kotak target, itu pun tidak ada yang sampai titik tengah target. Jadi kalau mau jago seperti Salavat, kelihatannya kami mesti menjadi nomad selama 5 tahun.

Hari beranjak sore, matahari perlahan beranjak turun. Saatnya kami berpisah dengan Salavat karena kami mesti menuju kota berikutnya. Tyo begitu mengagumi Salavat, mudah-mudahan kami bisa berkunjung lagi ke sini dan bertemu Salavat.

KOCHKOR

Berkuda, Menjadi Nomad Selama Tiga Hari

Kami langsung menuju Kochkor karena besok kami akan berkuda selama 3 hari menuju Sonkul Lake. Kami ingin merasakan gaya hidup nomad selama di Kyrgyzstan. Meskipun terus terang kami sangat ragu apakah bisa kami berkuda untuk jarak yang sangat jauh. Terlebih bagi anak-anak. Tapi pihak Kyrgyz Wonder meyakinkan kami bahwa mereka akan memberikan horseman yang pandai mengatur kuda-kudanya.

 

Tyo dan Raneeshya sudah sejak subuh bersiap untuk bertemu pihak Kyrgyz Wonder. Semalaman mereka terus melihat jam karena tidak sabar menunggu pagi. Pagi ini kami bertemu dengan kuda kami masing-masing. Horseman nya sama sekali tidak bisa berbahasa Inggris, namun sangat baik, telaten dan cekatan. Kuda Tyo berwarna hitam dinamakan Brew oleh Tyo, sementara kuda Raneeshya masih muda dan berwarna abu-abu dinamakan Grey Snacky oleh Raneeshya karena selalu senang snacking saat kami berhenti di manapun (seperti RaneeshyaJ). Kuda saya dan Eelco kecoklatan dan lebih besar.

Setiap harinya kami akan berkuda sekitar 5 – 6 jam (walaupun kenyataannya ternyata hari kedua sampai 7 jam). Saat pertama kali naik ke atas kuda sangat seram karena khawatir kudanya menolak kami. Tapi ternyata semua kudanya sangat jinak. Kami diajarkan teknik mengatur kuda hanya 15 menit, langsung jalan.

 

DAY 1

Hari pertama kami masih melalui pedesaan, melewati jalan setapak ditepian sungai. Sempat bertemu dengan anak kecil seusia Tyo atau Raneeshya yang sudah sangat lincah menunggangi kuda. Anak ini menggembala ratusan domba. Caranya mengatur seluruh domba agar mau bergerak menuju padang rumput sangat luar biasa. Tyo tercengang melihatnya dan terus mengamati si anak bergerak maju mundur mengatur para domba. Setelah melewati pedesaan dan pekuburan, jalan mulai menanjak dan pemandangan semakin bagus. Menjelang sore kami tiba di yurt tempat kami menginap. Yurt ini berada di ketinggian 4.200 m dpl. Dinginnya luar biasa karena angin bertiup cukup kencang. Sampai di dalam Yurt, kami tidak sanggup keluar lagi dari yurt. Bersembunyi di bawah selimut hingga si ibu pemilik Yurt menyajikan makan malam. Bapak pemilik Yurt tertawa melihat kami bersembunyi di bawah selimut, beliau langsung menyalakan perapian. Bahan bakar perapian berasal dari kotoran yak/sapi peliharaan mereka. Setelah perapian menyala, barulah kami keluar dari selimut.

Makanan yang disajikan sama seperti beberapa hari ini tinggal di guest house. Selalu sejenis laghman dan roti. Sebagai makanan penutup mereka memberikan selai, roti nan serta permen. Selama di Kyrgyzstan dan Tajikistan memang permen selalu ada di meja sebagai bagian dari jamuan bagi para tamu. Sementara untuk makan pagi selalu 2 butir telor. Bisa direbus ataupun di ceplok dengan roti dan butter.

 

DAY 2

Pemandangan selama perjalanan di hari kedua jauh lebih bagus dibanding pertama. Kami melewati pass gunung tertingginya di ketinggian 4.900 m dpl. Disini signal telp menyala kuat. Namun sebegitu kami turun punggungan, signal telp langsung hilang lagi. Setelah melewati pass, perlahan kami turun menuju danau Sonkul, danau yang sangat cantic ini terletak di ketinggian 3.016 mdpl dan seluas 270 km². Kami menginap di Yurt di tepi danau ini, luar biasa indahnya. Saking besarnya danau, rasanya kami seperti di tepian laut yang dikelilingi pegunungan bersalju. Yurt nya sangat indah dilengkapi dengan ayunan sehingga membuat anak-anak betah bermain. Sayangnya hampir semua baterai camera dan Hp kami sudah sangat tipis sehingga pengambilan gambar benar-benar kami batasi selama di sini dan untuk nge-charge kami hanya punya satu solar charger kecil.

Saat makan malam, kami disajikan ikan hasil tangkapan dari danau dan sup hangat. Tyo terus menerus membujuk kami agar trip berkudanya bisa diperpanjang hingga seminggu. Alasannya macam-macam. Sudah begitu sayang dengan Brew, kasihan Brew kalau ditinggal, boleh gak bawa brew ikut travelling juga. Waah, pusing semalaman melayani Tyo yang gak mau balik ke Cappuccino dan maunya menjadi nomad di sini.

 

DAY 3

Hari ketiga, perjalanan yang bagus hanya setengah perjalanan, setelahnya kami melewati rute yang sama seperti saat berangkat yaitu melewati pedesaan. Tyo terus bersedih sepanjang jalan. Raneeshya sebenarnya mau lanjut berkuda tapi juga mau cepat kembali ke Cappuccino dan menelpon teman barunya di Bishkek untuk bercerita tentang pengalaman berkudanya.

Kami bertemu kembali dengan Cappuccino sore hari. Setelah mencuci seluruh tubuh yang berdebu dan berganti baju, kami melanjutkan perjalanan lagi menuju Osh kota terakhir sebelum keluar dari Kyrgyzstan. Di Osh kami mesti bersiap untuk masuk Pamir Highway. Mesti berbelanja, re-packing, dllnya.

 

One Response

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *