The Journey Has Begin…

Kuching, Serawak
  • 2 minggu terakhir semua berjalan begitu cepat seperti menaiki jetcoaster. Kami dikejar deadline keberangkatan karena jadwal trip melintasi China sudah fixed, tidak bisa mundur lagi. Dan jadwal tsb berhubungan dengan pengiriman mobil dari Jakarta ke Pontianak dan kemudian dari Kuching ke Port Klang. Meleset 1 hari saja akan berdampak panjang.
  • Sebenarnya kami masih butuh waktu minimal 3 minggu untuk menyelesaikan semua persiapan, tapi memang tidak ada pilihan. Waktu kami banyak terbuang akibat mencoba seluruh alternatif dalam memilih mobil yang akan kami gunakan. Sehingga di saat pilihan sudah tidak ada selain menggunakan Cappuccino, waktu sudah sangat mepet sementara pengurusan surat-surat serta memodifikasi mobil tetap harus dilakukan. Ini yang paling menguras tenaga, waktu dan pikiran diwaktu yang sangat pendek tsb
  • Dan …. setelah hampir 2 minggu kurang tidur, hari ini tgl 13 Juli 2018, kami memulai perjalanan panjang bersejarah bagi keluarga kami, melintasi setidaknya 35 negara dalam 1 tahun.
  • Pkl 03.00 pintu rumah diketuk, saat dibuka sejumlah teman-teman dari Caldera memberi surprise …., mereka datang pkl 3 pagi untuk membantu mengangkat seluruh barang, memasukkannya ke mobil dan melaju cepat menuju Bandara. Thanks god …, that’s what real friends are like !
Cappucino Sudah Menunggu di Pontianak
  • Cappuccino sudah berangkat terlebih dahulu 5 hari yang lalu dengan menggunakan kapal roro dan sudah tiba dengan aman di Pontianak.
  • Kami berempat terbang menyusul ke Pontianak dengan menggunakan Garuda pkl 05.00 dini hari. Tanpa bantuan teman2 Caldera, pasti kami akan tertinggal pesawat.
  • Sampai dipesawat, Kami ber empat tertidur kelelahan didalam pesawat.
  • Terkejut saat pesawat tiba-tiba sudah landing dengan mulus di Pontianak.
  • Bergegas mengambil seluruh luggage yang luar biasa banyaknya, kami langsung menuju pelabuhan Pontianak dengan menggunakan avanza charteran.
Selamat datang di Pontianak
  • Tiba di pelabuhan bertemu dengan Pak Syamsu untuk serah terima mobil. Cappuccino Nampak sudah menunggu manis di dalam kapal. Semua mobil sudah diambil pemiliknya, hanya tersisa Cappuccino didalam kapal tsb.
  • Proses serah terima berjalan cepat dan tanpa kendala. Kami langsung memasukkan semua barang kedalam Cappuccino. Aturan mengirim barang dengan menggunakan kapal roro adalah, semua barang mesti terkunci rapi. Jika ada barang yang bergeletakan didalam mobil, umumnya akan hilang.
  • Tidak bisa semua barang kami kunci didalam mobil, karena peti tempat seluruh “harta karun”, ternyata pembuatnya salah ukuran. Butuh tambahan 3 hari untuk membuat yang baru. Jadi peti berangkat bersama kami, Karenanya barang yang kami bawa dipesawat sangat banyak dan konsekuensinya ……overweight
  • Pkl 10.00, semua urusan packing darurat di atas kapal roro sudah selesai, kami langsung meluncur menuju perbatasan Indonesia – Malaysia, Entikong melalui trans Kalimantan. Jalan trans Kalimantan saat kini sudah jauh lebih mulus dibanding beberapa tahun lalu saat saya ikut tim “Women Across Borneo”. Saat itu masih banyak jalanan dengan medan yang rusak dan aspalnya pun banyak yang berlubang. Dulu, terasa sekali perbedaan wajah Malaysia dan Indonesia di areal perbatasan ini.
  • Saat kini, rasanya kita patut berbangga, jalan kita bahkan lebih mulus daripada jalan tetangga 😀
  • Menurut rencana, kami mesti mengejar untuk bisa sampai Kota Kuching sebelum pkl 17.00 agar bisa menyerahkan mobil pada pihak cargo karena Cappuccino mesti ikut kapal lagi dari Kuching menuju Port Klang. Perkiraan waktu tempuh Pontianak Kuching adalah 7 jam, jadi waktu kami memang sangat ketat. Bahkan makan pun mesti cepat karena bagian yang sulit adalah melewati perbatasan/border.
  • Bagaimanapun kami berusaha mengejar waktu dan menyetir bergantian tanpa istirahat, ternyata kami baru bisa mencapai border (Entikong) pkl 16.30. Berlari-lari mengurus cap keluar Indonesia di passport dan carnet (passport milik Cappuccino) di petugas yang berbeda sudah menghabiskan waktu 15 menit. Tersisa waktu 15 menit lagi untuk mengejar masuk Malaysia.
  • Saat kami memasuki gerbang imigrasi Malaysia petugas sudah bersiap tutup. Cap untuk masuk Malaysia di passport kami sudah selesai, tinggal cap di passport Cappuccino yang belum. Petugas sudah menutup rolling door, dan wajahnya sudah mulai kurang ramah. Untung waktunya pas-pas an…,meskipun mesti menghadapi wajah kurang ramah petugas.
  • Kami segera kontak ke pihak cargo bahwa kami tidak bisa on time tiba di Kuching, karena dari Entikong menuju Kuching membutuhkan waktu 1.5 – 2 jam. Untungnya pihak cargo bermurah hati. Mereka mengijinkan untuk menerima mobil hingga sabtu esok harinya paling lambat pkl 12.00 siang.
  • Masih bisa bernafas lega, namun tetap mengejar perjalanan ke kota Kuching yang tersisa 2 jam mengemudi. Sangat lelah dan tegang…., namun tetap mesti dijalani dengan bersyukur. Bayangkan jika pihak cargo tidak mau menerima Cappuccino…
  • Kami tiba di kota Kuching pkl 20.30. Langsung check in di Majestic Riverside Hotel, makan malam cepat dan tidur kelelahan.
kesibukan pagi hari didepan hotel
  • Bangun pagi hari dengan badan yang masih pegal-pegal dan lemas. Setelah makan, mesti langsung re-packing cepat dan mengantar Cappuccino ke pihak cargo. Ternyata packing sekian banyak barang agar bisa terkunci didalam peti dimobil, sangatlah tidak mudah. Kami baru bisa menyelesaikan packing jam 11.00. Langsung meluncur menuju cargo.
  • Tapi ada yang aneh, nama kantor cargo tsb berbeda dengan nama kantor yang selama ini kami kontak. Keanehan semakin terasa, setelah kami serahkan Cappuccino, sang staff menjelaskan bahwa kapal baru akan jalan tgl 17 Juli (semestinya tgl 15 Juli 2018), mobil sendiri baru bisa masuk kapal tgl 16 pagi……., Saat itu masih tgl 14 Juli pagi.
Bersitegang dengan Petugas Cargo
  • So kenapa kami mesti diburu-buru sampai kami begitu tegangnya. Hal lainnya, jika jadwal kapal mundur, bagaimana dengan jadwal kami. Itu berarti jadwal kami juga berubah banyak, karena mundur 2 hari dari rencana semula. Banyak dari rencana yang mesti dirombak dan itu tidak mudah.
  • Kelihatannya, petugas di cargo yang pertama “bermain belakang” dan menyerahkan kami pada temannya di perusahaan cargo lain. Karenanya kami tidak bisa ikut sesuai jadwal awal, tapi ikut di kapal yang berbeda.
  • Protes kami tidak digubris, jika kami tidak suka, ya silakan cari kapal lain dan mengingat itu membutuhkan waktu maka kemungkinan kami akan dapat jadwal kapal yang lebih mundur lagi. Jadi ya…, terpaksa tutup mulut dengan kesal.
  • Sore itu kami habiskan dengan utak atik ulang planning kami dan mengatur rencana baru karena penambahan hari yang menggantung tanpa Cappuccino.
  • Tanggal 15 Juli 2018, kami punya tambahan waktu di Kuching. Karenanya berkesempatan untuk melihat Rainforest World Music Festival 2018 seharian penuh di Serawak cultural village, sebuah taman dengan contoh2 rumah Dayak dari 9 suku Dayak yang berbeda.
Berkunjung ke pusat Rehabilitas Orang Utan
  • Hari berikutnya, kami berkesempatan untuk sightseeing kota Kuching. Ke Semanggoh Wildlife centre dan River front. Bagi anak-anak, melihat Semanggoh Rehabilitation centre, dimana para Orang Utan yang diselamatkan dari tangan manusia, dilepas di hutan setelah dipersiapkan untuk bisa beradaptasi dengan lingkungan hutan, sebenarnya, benar-benar hal yang positive. Memahami kehidupan orang utan dan perbedaannya dengan kera / monyet hal lainnya yang bagus untuk pengetahuan mereka.

 

😀 Ikuti terus perjalanan kami..

Jangan lupa subscribe channel kami di Youtube -> Journey of Wonder

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *