Rain Forest World Music Festival 2018

Rainforest World Music Festival

Tanggal 15 Juli 2018, kami punya tambahan waktu di Kuching. Kami berkesempatan untuk melihat acara tahunan Rainforest World Music Festival 2018 seharian penuh di Serawak Cultural Village, sebuah taman dengan contoh-contoh rumah Dayak dari 9 suku Dayak yang berbeda.

Festivalnya diadakan selama tiga hari berturur-turut, untung kami masih bisa berkesempatan hadir di hari ketiga. Festival musik yang luar biasa menurut kami. Berpindah dari satu stage ke stage lainnya yang menampilkan musisi-musisi dunia yang sangat keren itu benar-benar mengasyikkan. Raneeshya sangat antusias untuk bisa melihat seluruh stage.

How to get there?

Untuk menuju ke lokasi RWMF, bisa menggunakan shuttle bus atau shuttle van. Kalau naik shuttle bus tidak perlu bayar alias gratis hanya dengan menunjukkan tiket RWMF saja. Untuk mendapatkan shuttle bus, ada beberapa pick up point di titik-titik tetentu yaitu, Hills Shopping Mall, Riverside Majestic Hotel, Harbour View dan Merdeka Palace Hotel.

Kebetulan kami menginap di Riverside Majestic Hotel, jadi kami hanya perlu menunjukkan tiket untuk bisa pulang pergi naik shuttle bus ke lokasi RWMF, gratis J. Yang mahal itu membeli tiket RWMF-nya, karena sudah tidak ada early bird dan pre-sale, kami membeli harga tiket door sale. Tapi untungnya ada family package dengan 2 tiket orang dewasa + 2 tiket untuk anak seharga RM 320, kurang lebih sekitar Rp 1.140.000. Tapi worth it banget walaupun mahal 😁

The Show

Pertunjukkan musik oleh para musisi dari berbagai belahan dunia ditampilkan. Memperlihatkan ciri khas dan budaya yang mewakili tiap negara melalui musik. Mulai dari tuan rumahnya sendiri, Malaysia, kemudian Indonesia juga turut tampil dengan mempopulerkan tari saman asli yang ditampilkan oleh GayoGayo. Sayang kami tidak sempat melihat penampilan mereka L. Selain Asia, berbagai penjuru benua lain seperti Eropa dan Amerika sampai Afrika pun juga turut memeriahkan festival ini.

Salah satu pertunjukkan yang kami tonton adalah performance dari Korea. Mereka menampilkan permainan alat musik tradisional Korea yang bernama samulnori. Salah satu dari mereka menjelaskan pengertian dari samulnori ini. Sangat menarik, samulnori sendiri terdiri dari tiga suku kata Korea. Pertama sa berarti empat, lalu mul berarti instrumen atau objek dan nori yang berarti performa atau permainan. Jadi secara harfiah samulnori bisa diartikan sebagai empat permainan alat musik.

Stage yang paling menarik adalah saat Flamenco yang berasal dari Spanyol berkolaborasi dengan musisi dari Rajahstan. Para musisi banyak yang tidak bisa berbahasa Inggris, tapi dalam waktu 30 menit mereka bisa menghasilkan pertunjukkan yang sangat luar biasa. Ini menjelaskan bahwa musik adalah bahasa Universal. Lihat performance mereka di YouTube channel kami.