Rain Forest World Music Festival 2018

Tanggal 15 Juli 2018, kami punya tambahan waktu di Kuching. Kami berkesempatan untuk melihat acara tahunan Rainforest World Music Festival 2018 seharian penuh di Serawak Cultural Village, sebuah taman dengan contoh-contoh rumah Dayak dari 9 suku Dayak yang berbeda.

Festival musik yang luar biasa menurut kami. Berpindah dari satu stage ke stage lainnya yang menampilkan musisi-musisi dunia yang sangat keren itu benar-benar mengasyikkan. Raneeshya sangat antusias untuk bisa melihat seluruh stage.

Salah satu pertunjukkan yang kami tonton adalah performance dari Korea. Mereka menampilkan permainan alat musik tradisional Korea yang bernama samulnori. Salah satu dari mereka menjelaskan pengertian dari samulnori ini. Sangat menarik, samulnori sendiri terdiri dari tiga suku kata Korea. Pertama sa berarti empat, lalu mul berarti instrumen atau objek dan nori yang berarti performa atau permainan. Jadi secara harfiah samulnori bisa diartikan sebagai empat permainan alat musik.

Stage yang paling menarik adalah saat Flamenco yang berasal dari Spanyol berkolaborasi dengan musisi dari Rajahstan. Para musisi banyak yang tidak bisa berbahasa Inggris, tapi dalam waktu 30 menit mereka bisa menghasilkan pertunjukkan yang sangat luar biasa. Ini menjelaskan bahwa musik adalah bahasa Universal. Lihat performance mereka di YouTube channel kami.