LAOS

The land of million elephants

Menurut sejarahnya dahulu kala, Laos dikenal dengan nama “Lan Xang” yang artinya adalah negara sejuta gajah, ini karena dulunya ibukota Laos adalah Luang Prabang dan dikelilingi oleh padang pengembalaan gajah liar. Selain itu gajah merupakan hewan yang sangat penting bagi kerajaan Laos saat itu untuk transportasi dan mesin perang. Tapi itu jaman dahulu kala, kini populasi gajah menurun sangat drastis. Diperkirakan hanya tersisa 1000 gajah di Laos saat ini.

Terpaksa Memutar Rute Akibat Salah Border (lagi….)

Sebenarnya saat planning awal, kami akan berada di Laos selama 12 hari. Kami berdua sudah beberapa kali berkunjung ke Laos, tapi anak-anak belum pernah. Bagi kami akan sangat bagus jika anak-anak bisa melihat kehidupan sederhana di Laos sehingga anak-anak bisa selalu bersyukur dengan apa yang mereka miliki saat ini yang jauh lebih nyaman.

Namun, kenyataannya rencana kami tsb mesti dirombak total akibat delay pengiriman mobil dari Kuching ke Port klang, ditambah dengan border problem saat masuk dari Malaysia menuju Thailand, sehingga waktu tersisa yang kami miliki untuk bisa menjelajah Laos hanyalah 7 hari, karena pada tanggal 7 Agustus 2018 pkl 08.00 sudah mesti bertemu Guide kami di China. Tanggal masuk China tidak bisa kami rombak seenaknya karena untuk masuk China urusan administrasinya cukup rumit dan sudah mesti di urus sejak jauh hari.

Dengan waktu yang sudah mepet, Eelco masih ingin mencoba masuk Laos melalui border yang berbeda dari beberapa border yang pernah kami lalui sebelumnya saat masuk Laos dari Thailand. Thailand – Laos memiliki 7 border dan 4 diantaranya sudah pernah kami lintasi. Border yang ingin kami lintasi ini menurut Eelco jalannya pasti lebih menarik dan masih alami karena jarang dilintasi traveller. Jaraknya memang agak lebih jauh, tapi bisa langsung tembus menuju Luang Prabang.

Dan pantas saja border tsb jarang dilintasi oleh para traveller, karena ternyata memang tidak bisa untuk orang asing/foreigner alias hanya bisa dilalui oleh orang lokal saja. Terpaksa kami putar balik menuju border lainnya yang letaknya setengah hari perjalanan. Semakin mepet deh waktu yang kami punya untuk mengeksplor Laos.

Akhirnya kami masuk lewat border Nam Ngeun. Sampai di Nam Ngeun sudah sangat sore. Jalan dari Nam Ngeun menuju Luang Prabang pada 100 km pertama sangat bagus karena ada proyek power plant milik China. Namun setelahnya luar biasa jelek, berlumpur dan sangat gelap. Perjalanan terpaksa tetap kami lanjutkan karena mepetnya waktu. Jarak antara 1 desa dengan desa lainnya sangat jauh, bisa hingga 30 km. Saat malam dan kelaparan, kami memutuskan berhenti di warung kecil untuk membeli nasi dan kemudian makan dengan dendeng buatan Mbak Ina yang diberikan sebelum kami berangkat. Yummy… (Mbak Ina…., dendengnya beneran yummy sampai ke remah-remahnya lho J). Tengah malam kami berhenti di antah berantah, masuk kedalam jalan setapak yang kelihatan jarang dilalui oleh penduduk, memasang rooftop tent dan tidur dengan kelelahan.

Tak Bat, Tradisi Sedekah Pagi untuk Para Monk

Pagi berikutnya, kami langsung berburu lokasi untuk menyaksikan Monk Parade di mana para monk mendapat persembahan berupa makanan dari penduduk lokal. Semua monk keluar dari monastery dan berkeliling kota Luang Prabang. Monk memang tidak bekerja mencari uang, sehingga mereka hidup dari donasi penduduk setempat. Hampir seluruh keluarga memberikan persembahan. Biasanya setelah selesai berkeliling para monk mendoakan penduduk yang memberikan persembahan tsb.

Setelah menyaksikan monk parade, kami langsung menuju morning market dan makan pagi disana. Lalu balik ke hotel. Anak-anak mesti belajar dan saya mesti mengurus laundry J. Sore hari kami keluar untuk melihat Luang Prabang night market untuk makan malam. Wah, makin lama night marketnya makin besar dan pengunjungnya sekarang lebih banyak dari China. Nampaknya Turis China banyak yang berlibur ke Laos berbeda dengan sebelumnya, kebanyakan turis western.

Pergi ke Mandalao Elephant Conservation

Kami beruntung berkesempatan ngobrol lama dengan Mr. Gregorio Rojas, operational manager Mandalao Elephant Conservation, perusahaan yang sangat ketat dalam menjaga keberlangsungan lingkungan di Luang Prabang terutama dalam hal konservasi gajah. Meskipun kami sudah mengetahui beberapa hal tentang gajah, namun pengetahuan kami tersebut ternyata sangat dangkal.

Gajah memiliki siklus hidup sama seperti manusia. Anak-anak gajah misalnya, hingga usia 3 tahun ya sama seperti anak-anak kita di usia balita. Kita juga mesti memperhatikan apa konsumsi untuk para gajah ini dan tidak bisa asal kasih makanan tanpa memikirkan diet dan gizi bagi mereka J . Gajah diberikan tambahan makanan (selain makanan yang mereka bisa dapatkan di hutan) berupa tanaman 100 kg per hari campuran batang tebu, jagung, batang pisang dan nanas. And they really love it if we feeding them bananas!

Bagian punggung mereka gampang kepanasan oleh karena itu di banyak tempat wisata yang meletakkan kain tebal atau karpet untuk duduk para tamu saat menunggangi gajah, atau bahkan meletakkan bangku kayu untuk duduk si tamu, itu merupakan “animal abuse”. Karena kasian si gajahnya, dia akan kepanasan dan sangat gak nyaman. Terlebih jika dipasang berbagai ragam aksesoris supaya sang gajah terlihat cakep, makin sakit deh si gajahnya L. Biasanya mereka akan sangat gelisah. Gajah juga seringkali mood-nya berubah. Sehingga jika sedang dalam kondisi mood jelek gajah malas bergerak. Dalam kondisi begini biasanya si pawang akan memukul si gajah dengan palu atau besi tajam karena sudah ada tamu yang maunya berputar-putar dengan gajah tsb. Kebayang kan, gimana rasanya dalam situasi seperti itu…L

Saya langsung ingat saat ke Sumatera Selatan pernah menunggangi gajah bersama anak-anak. Ya ampun, saya pernah melakukan animal abuse tanpa saya sadari. So sorry ya gajah…., dulu itu masih gak tau. Jadi teman-teman jangan mau menunggangi gajah ya, kasian gajahnya. Kita yang senang-senang, si gajah kesakitan. No hammer, no chains, no hooks, and say no to elephant riding. Treat elephants nicely and properly J

Setelah ngobrol-ngobrol santai yang sarat nilai edukasi tentang gajah, Mr. Gregory mengajak kami menuju areal tempat gajah mereka di sebrang sungai. Arealnya sangat luas, 200 Ha. Kebayang deh petugas mereka saat muter. Greg bercerita bahwa gajah mereka itu hanya muter 1x sehari dengan jarak tempuh max 30 km. Biasanya gajahnya jalan dari hutan tempat mereka tidur terus bermain di sungai sebentar baru balik lagi ke hutan.

Para tamu di Mandalao Elephant Conservation ini datang untuk memandikan gajah, memberi makan gajah dan ikut trekking bersama gajah ke hutan untuk mengembalikan mereka ke tempat bobonya para gajah. Sayangnya kami sudah datang kesorean dan mesti langsung berangkat menuju Luang namtha, jadi gak keburu deh kalau mesti trekking ke hutan.

Insiden Jatuhnya Peti dari Atap Capuccino 🙁

Perjalanan kami lanjutkan ke Luang Namtha setelah early dinner. Kami berkendara sudah menjelang malam, pkl 19.30. Sebenarnya sudah lumayan lelah, tapi jika menambah hari lagi di Luang Prabang, maka kami sudah pasti tidak bisa trekking ke ethnic minority di Luang Namtha.

Bergantian kami menyetir dan tidur setiap 3 jam. Jalan dari Luang Prabang menuju Luang Namtha beraspal namun penuh lubang2 besar. Saat malam lubang-lubang ini sering tidak terlihat hingga cappuccino berkali-kali terbanting hebat.

Menjelang pagi saat giliran saya yang menyetir dan melewati lubang besar yang menganga, tiba-tiba terdengar suara dentuman dan cappuccino terasa bergoyang cukup keras. Eelco terbangun dan langsung meminta saya berhenti untuk mengecek kondisinya.

Ternyata, peti hitam yang kami letakkan di atas cappuccino terlempar. Kelihatannya akibat selama seminggu kami melewati jalanan yang parah dan terbanting di banyak lubang-lubang besar mengakibatkan rel untuk roof tidak kuat lagi dan bagian belakang lepas, dan rak besinya pun terlempar. Peti masih tertutup rapat, hanya saja solar panel yang kami letakkan diatas peti ikut terlempar dan pecah. Tidak bisa digunakan lagi. Mau nangis rasanya, gimana nasib barang-barang kami? Mau ditaruh dimana? Kalau gak ada solar panel, gak bisa masak dan charge laptop dong L

Masih bingung dan pusing dengan situasinya, kami tetap mesti menuju Luang Namtha. Semua barang di peti kami pindahkan ke duffel bag milet besar dan dimasukkan kedalam Cappuccino untuk sementara. Peti dan solar panel yang sudah pecah kami tinggal karena tidak bisa dimasukkan kedalam cappuccino. Mobil langsung menjadi penuh sesak.

Rencana trekking langsung batal. Kami langsung mencari alternatif untuk meletakkan duffel bag diatas Cappuccino. Berkeliling ke beberapa tempat, tetap tidak bisa mendapatkan besi penahan untuk diletakkan diatas. Bagaimanapun Luang Namtha adalah kota kecil. Pasti akan sulit mendapatkan sejenis Thule disini 😀

Akhirnya kami putuskan langsung menggunakan duffel bag millet tsb di atas cappuccino dengan ditutup cover terpal yang cukup bagus. Duffel bag nya sendiri sudah waterproof, dengan tambahan cover terpal yang bagus pasti akan aman menjaga barang-barang musim dingin yang sebelumnya kami letakkan di dalam peti.