PENANG

  • Homestay di Penang 
  • Selama di Penang, kami mengutamakan untuk mencari hotel dengan area parker yang luas serta kamar yang nyaman karena di sini kami harus packing dengan serius sebelum melanjutkan perjalanan. Semua harus berada di tempat yang benar agar mudah diambil saat dibutuhkan. Wah, rasanya seperti mengatur isi rumah dalam ruangan yang sangat terbatas.Akhirnya kami pilih homestay, karena jelas lebih nyaman untuk kami melakukan re-packing. Pilihan kami jatuh pada Bee’s Homestay. Terletak agak di luar kota, tak jauh dari pantai. Memiliki kamar yang sangat luas untuk packing seluruh barang kami dengan balkon yang juga luas. Tempatnya kelihatan asyik.Saat kami masih berada di jalan menuju Penang, kami menelpon Mrs. Bee (owner homestay tempat kami menginap) dan mengabari beliau bahwa kemungkinan kami akan tiba di lokasi sangat malam, Mrs. Bee tetap ramah dan bilang “no worries, dear. Just be careful?” It’s so nice of her.Kami benar-benar sampai di Bee’s Homestay pukul 01.15 tengah malam, dan Mrs. Bee sudah stand by di homestay dengan senyum ramahnya. Rumahnya memang benar-benar luas dan nyaman. Hanya ada 10 kamar, namun Mrs. Bee masih punya rumah lainnya yang juga disewakan. Homestaynya sangat bersih dengan dapur dan mesin cuci yang bisa digunakan oleh semua tamu. Ternyata di homestay ini hampir 95% digunakan oleh orang-orang Indonesia yang menderita kanker. Karena tidak jauh dari homestay, terdapat rumah sakit khusus kanker yang konon kabarnya sangat bagus.

 

  • Berburu Rumah Sakit untuk Suntik Vaksin
  • Esok harinya kami memulai hari dengan mencari rumah sakit untuk melakukan tambahan suntikan vaksin sebelum masuk Afrika. Suntik yang sudah kami lakukan baru Yellow Fever dan Meningitis. Masih harus ditambah lagi dengan Hepatitis A dan Rabies. Di Indonesia tidak sempat kami lakukan, karena saat itu di beberapa RS, vaksin hepatitis A sedang tidak ada stock. Karena itu kami berniat melakukannya di Penang, namun di sini juga mengalami hal yang sama. Di 1 rumah sakit ada vaksin hepatitis A untuk dewasa tapi tidak ada untuk anak, di RS yang lain ada untuk anak tapi tidak ada untuk dewasa dan tidak ada vaksin untuk Rabies. Setelah berkeliling ke 3 RS, akhirnya kami memutuskan melakukan vaksin esok harinya di RS yang berbeda-beda, setelah selesai packing dan check out… jika sempat.

 

  • Kepusingan Packing yang Menguras Tenaga
  • Setelah early dinner, kami memulai kepusingan packing. Hal ini benar-benar menyita energi yang luar biasa. Setiap orang dari kami mendapat 2 stuff bag untuk baju-baju. Tidak boleh lebih. Semua baju harus digulung rapi dan diikat dengan karet, dimasukkan ke dalam tas kecil Pinnacle yang sangat berguna. Nantinya, jika kami menginap di hotel, anak-anak tinggal membawa 1 tas kecil dan 1 tas buku pelajaran. Sementara kami membawa 1 tas baju tsb dengan laptop dan perlengkapan chargernya. Setiap orang bertanggung jawab terhadap barangnya masing masing.
    Saat packing, kami ditemani teman baru kami disana, Mas Ato dan Mbak Amelia yang berasal dari Palangka Raya, kebetulan ada di homestay karena mesti mendampingi orangtua Mbak Amel yang menderita kanker porstat. Mereka sudah 2 tahun bolak balik ke Penang. Sebenarnya sejak setahun terakhir bapaknya Mbak Amel sudah membaik dan bisa berjalan tanpa bantuan tongkat. Namun minggu lalu kondisi beliau drop, sehingga dibawa kembali ke Penang.
    Setelah begadang sampai dini hari dan seluruh tenaga dikerahkan akhirnya semua selesai keesokan harinya pukul 12.30 tepat. Masih sempat mandi sebelum berangkat menuju Thailand Border.
  • Tertahan di Border Malaysia-Thailand
    Pukul 13.30 kami melaju menuju Bukit Kayu Hitam, perbatasan Malaysia dan Thailand. Perjalanan menuju perbatasan tidak terlalu jauh sekitar 3 jam dari Penang. Kami masih memiliki cukup banyak waktu karena border ditutup jam 12:00 malam.Kami memang bisa melewati border Malaysia tepat waktu dan keluar dengan mulus. Namun saat memasuki gate Thailand, Cappuccino tertahan tidak bisa masuk Thailand, karena regulasi Thailand tidak mengijinkan mobil dari luar, kecuali Malaysia, Singapore, Laos dan Cambodia bisa masuk Negara mereka tanpa mengurus ijin terlebih dahulu (kami sudah mengetahui hal ini sebelumnya, namun dari cerita teman-teman kami yang overlander Eropa, mereka bisa lewat tapi hanya di border tertentu, dan border ini termasuk yang bisa dan aman untuk kami bisa melintas dengan mobil).

    Nampaknya kami kebetulan mendapat petugas yang sangat ketat, karena baru saja sehari sebelumnya, teman kami Colby yang akan bersama kami selama trip China dapat melewati border dengan mulus. Meskipun Colby bercerita bahwa petugas justru meminta carnet (padahal Thailand tidak memberlakukan carnet di negaranya) dan petugas menolak untuk memberikan
    custome declaration.

    Karena tidak ada pilihan, kami memutuskan untuk kembali esok pagi dan bermalam di areal duty free (The Zon) di antara border karena tersedia parker harian. Kami tidak kembali masuk ke Malaysia karena akan merepotkan bagi kami dan terutama bagi Cappuccino, harus keluar masuk untuk stamp carnet.


    Namun pukul 23.00 setelah
    rooftop tent terpasang rapih dan kami bersiap untuk tidur di dalam tenda, petugas mendatangi kami. Ternyata di The Zon memang bisa menitipkan mobil harian, tapi kami tidak boleh bermalam. Bahkan petugas The Zon mesti keluar pukul 12.00 malam dan gerbang dikunci. Really a bad day .

    Jadilah kami packing lagi
    rooftop tent dan kembali masuk Malaysia, mencari hotel untuk semalam ini. Petugas di imigrasi Malaysia terkejut saat kami masuk lagi. Mereka menunjukkan hotel yang berada 8 km dari lokasi gerbang imigrasi. Tengah malam kami mencari hotel tsb, dan terpaksa menginap dalam kamar yang lumayan sempit.

    Saat kembali ke border pada pagi hari, petugasnya lebih ramah dan baik. Mereka menjelaskan bahwa memang situasi dengan regulasi yang baru dan itu sangat tidak nyaman, bahkan bagi mereka sendiri. Mereka memahami kondisi kami dan mempersilahkan kami masuk, namun mereka tidak bisa memberikan
    Custom Declaration dan seluruh tanggung jawab diserahkan pada kami. Jadi kami bisa masuk, tapi sebenarnya illegal. Kami sangat tidak senang dengan situasi tsb, karena jika nanti melewati border menuju Laos pasti kami akan tertahan petugas imigrasi dan kemungkinan akan kena fine (denda). Jika petugas tidak mood, mobil kami bisa disita.Petugas tetap menyarankan kami lewat prosedur normal, urus ijin lewat travel agent namun itu akan memakan waktu minimal 15 hari pengurusan. Sangat tidak memungkinkan walau kami bersedia membayar harga tinggi, karena kami sudah harus berada di border China dalam waktu 14 hari. Jadi pilihan yang ada adalah masuk Thailand dengan illegal meskipun pihak imigrasi mempersilakan kami lewat. Tapi bagi Cappuccino ini illegal. So bad, we really hate to do that Kami coba telepon Dave, teman Overlander yang memang tinggal di Pattaya dan sering membantu para Overlander yang tersangkut di imigrasi karena permasalahan new regulation ini. Dave sangat tidak menganjurkan kami untuk masuk Thailand dengan cara tersebut. Solusi yang diberikan adalah pindah border. Memang butuh hampir setengah hari menuju border tersebut, tapi itu satu-satunya pilihan terbaik. Berarti jadwal kami harus mundur kembali, karena sudah terbuang 1,5 hari lagi.
[/span4][/columns]