Uzbekistan – Part 15

UZBEKISTAN

Setelah melalui rute Pamir Highway Dan banyak menambah hari sepanjang perjalanan, Kami baru sadar bahwa waktu untuk masuk ke Turkmenistan sudah sangat dekat. Rencana untuk explore Dushanbe, ibukotanya Tajikistan terpaksa kami skip. Kami Di Dushanbe akhirnya hanya untuk bersiap masuk Uzbekistan.

Dari cerita teman2 yang sudah lewat border, mobil akan diperiksa serius. Obat2an jenis tertentu misalnya sejenis panadol, drone, tidak boleh sampai ditemukan oleh petugas. Dendanya lumayan besar.

Selain itu diesel katanya sangat sulit didapat, karena lebih dari 90% Mobil disana menggunakan gas. Dengar dari teman kami, mereka mesti membujuk sopir truk untuk bisa membeli solar dari tanki truknya.ย  Jadii benar2 mesti menghitung ulang rute dan memastikan lokasi pom bensin ygย  mungkin tersedia dengan menyiapkan back up plan jika masalah dengan mendapat diesel.

Hal yang menarik saat kami berada di Uzbekistan adalah kendaraan di sana yang hampir semuanya berwarna putih. Jenis modelnya pun hampir sama, paling tidak ada 4 jenis model yang berbeda. Beberapa artikel kami baca memang katanya hanya ada satu pabrik mobil yang memproduksi hanya beberapa model dan tingginya pajak membuat mobil-mobil asing menjadi mahal.

Dengar-dengar katanya warna putih warna paling murah dan mobil warna putih mudah untuk dibersihkan dan tidak terlalu terlihat jika berdebu dibanding mobil-mobil yang berwarna lain. Unik sekali.

Tashkent

Kota yang pertama kami singgahi adalah Tashkent, ibukota Uzbekistan.

Kami menyempatkan diri untuk mampir ke KBRI Tashkent dan bertemu dengan mbak Ocha di KBRI. Diajak mampir ke rumah mbak Ocha dan disuguhi bakso dan tempe buatan Mas Khamdun. So happy… Pengobat kangen Indonesia ๐Ÿ˜„. Raneeshya dan Tyo sangat happy karena setelahnya bisa bermain bersama Yemima Dan Haura anak teman-teman KBRI.

Di Tashkent tak lengkap jika tidak mengunjungi Chorsu Bazaar, mengunjungi museum Amir Temur dan melihat copy Al-Qurโ€™an tertua di dunia. Museum Amir Temur berisi tentang informasi dan sejarah tentang Amir Temur. Ada banyak gambar atau lukisan yang menarik dan artefak yang menceritakan mengenai kehidupan Amir Temur. Selain berisi tentang sejarah dan kejayaan pada masa Timurid yang dikuasai Amir Temur, di museum ini kami juga bisa melihat salinan Al-Qurโ€™an tertua di dunia.

Teman kami dari MPA Aranyacala Trisakti, Dr. Suzanna Zas, bertugas di Soroako. Bersama suaminya Anto Koesharjanto, mereka sangat aktif naik gunung, travelling, diving dan ikut marathon. Sudah menjajal gunung sampai ketinggalan diatas 7.000 mdpl, termasuk Lenin Peak yg terletak di Kyrgyzstan.

Saat itu, kebetulan Susan memang sudah niat mau solo travelling ke Uzbekistan. Jadilah kami janjian bertemu Di Tashkent. Lumayan selama beberapa hari ada tambahan orang dalam keluarga kami, dari Tashkent hingga Samarkand.

ย 

Samarkand

Dari Tashkent menuju Samarkand, kami menyempatkan mampir di tempat makan yang khas di pinggir jalan. Semua penjual makanan, jualannya sama โ€ฆ.. ikan ๐Ÿ˜€. Kami pesan ikan goreng, nasi dan salad. rasanya sedap sekali.

Tiba di Samarkand sudah menjelang malam. Untungnya kami bisa mendapat hotel yang cukup nyaman dengan harga yang tidak terlalu mahal.

Dalam 3 hari ke depan, kami sudah mesti masuk Turkmenistan. Kami hanya dapat visa transit untuk 5 hari. Sehingga meskipun Samarkand lumayan cantik dan selayaknya di explore untuk minimal 2 Hari, terpaksa hanya dimampiri 1 malam. Kami hanya mengunjungi beberapa tempat seperti Registan, Gur Emir Mauloseum dan Bibi Khanym Mauloseum. Bibi Khanym pun kami putuskan untuk tidak masuk karena anak-anak lebih memilih bermain sepeda di sekitar pelataran tempat tsb.

Gur Emir Mauloseum berisikan makam Amir Temur dan para keturunannya. Berbicara tentang Uzbekistan, pasti tidak pernah lepas dari segala topik mengenai arsitekturnya yang begitu wah dan menakjubkan. Gur Emir konstruksinya selesai tahun 1424. Saat masuk, interiornya begitu indah dan sangat kaya, dindingnya dilapisi oleh emas dan keramik-keramiknya dihiasi oleh tulisan-tulisan arab dan turki.

Kalau Registan Ensemble di Samarkand dikenal sebagai taman yang banyak dikunjungi oleh warga lokal maupun turis karena dikelilingi oleh 3 madrasah yang begitu kental dengan arsitektur islamnya di antaranya ada Shir Dor, Tillya Kari dan Ulugh Beg Medressa.

Karena terpepet oleh waktu, secepatnya kami kembali ke hotel, check out dan segera menuju Bukhara dengan berhenti sejenak disebuah kota kecil Hartang untuk mampir ke Makam Imam Bukhara dan menyempatkan sholat Di masjid Imam Bukhara.

Namun, saat akan mengisi solar yang sudah menipis, barulah terasa kepusingan mencari solar. Semua POM bensin hanya memiliki gas. Bensin terlebih solar benar-benar sulit didapat. Solar terakhir kami isi Di border Tajik -Uzbek, hanya cukup sampai di Bukhara. Kami khawatir, di Bukhara akan lebih sulit lagi mendapat bahan bakar.

Setelah nyaris frustasi berputar-putar mencari solar, untungnya kami diberitahu, untuk mencoba di salah satu pom bensin yang sudah kami kunjungi sebelumnya. Dan ternyata di samping POM bensin tsb terdapat 1 gardu kecil dipojok yang khusus untuk solar ๐Ÿ˜€. Terselamatkan lah kami saat itu. Jika kami isi penuh tangki termasuk jiriken, maka Cappuccino akan aman hingga Ashgabat, ibukota Turkmenistan….

Lokasi makam Imam Al-Bukhari ini sebenarnya masih termasuk Samarkand, hanya sedikit keluar kota di Hartang, Payarik district. Dari kota Samarkand ke arah utara, sekitar 30 menit berkendara. Komplek makam Imam Al-Bukhari menawarkan segala keindahannya di depan mata, suasananya tenang dan rasanya membuat hati menjadi damai. Selain ada makam, di sekelilingnya juga terdapat masjid, museum bahkan hotel untuk para turis dan para peziarah.

Setelah sholat di masjid Imam Al-Bukhari dan mengunjungi museumnya, kami berpisah dengan Susan yang masih belum puas meng-explore kota Samarkand, sementara kami melanjutkan perjalanan menuju kota Bukhara. Kota terakhir sebelum masuk Turkmenistan.

Bukhara benar2 Kota yang sangat eksotis. Tidak rela rasanya jika di Bukhara hanya 1 malam. Untuk explore old city saja sudah butuh seharian, belum Citadel dan areal disekelilingnya. Jadilah kami mundur lagi utk masuk Turkmenistan. 5 hari transit visa yang kami dapat, mesti benar-benar dikebut agar bisa dilewati hanya dalam 4 Hari ๐Ÿ˜๐Ÿ˜.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *