PROVINSI XINJIANG

Dikawal Polisi

Kami bangun esok paginya dan memutuskan lebih baik langsung jalan lagi menuju tempat menginap berikutnya yang menurut Brenda sangat bagus menyerupai grand canyon. Namun baru 1 jam kami jalan, sudah ada polisi yang menyetop kami dan menanyakan kami dari mana dan mengapa ada di lokasi tsb. Semua paspor dikumpulkan dan kami difoto. Saat kami jelaskan bagwa kami ingin cari sarapan pagi, mobil polisi tsb menggiring kami ke sebuah restoran dan kami diminta makan di restoran tsb sementara mereka hilir mudik berputar di depan restoran tsb. Benar-benar aneh, sampai lokasi makan pun kami tidak bisa sembarang memilih.

Selesai makan kami langsung masuk tol kembali dan melaju menuju “grand canyon”nya Xinjiang. Berhenti hanya untuk membeli bahan bakar dan minuman beserta snack kecil. Hanya sempat terhenti lama saat convoy militer melaju di jalan tol dan seluruh kendaraan dihentikan. Convoy yang saya maksud bukanlah 1-10 kendaraan militer, tapi ratusan jumlahnya. Membutuhkan waktu 1 jam sampai convoy tsb lewat seluruhnya dan kami diijinkan melaju kembali di jalan tol. Saat itulah kami benar-benar menyadari betapa sensitifnya situasi dan kondisi yang ada di Xinjiang, bahwa kami tidak bisa menganggap ini sebagai lelucon karena memang sangat serius.

“Grand Canyon” di Korla, Xinjiang Prov, China

Lokasi “grand canyon” tersebut memang sangat fantastis dan membuat kami sangat happy. Untungnya kami tiba di tempat tsb masih sore dan punya cukup waktu untuk explore kawasan tsb. Raneeshya dan Tyo langsung berlarian di antara tebing kecoklatan dan asyik bermain. Saya dan Eelco pasang tenda dan mulai masak memasak. Colby mengatur tenda mungilnya dan ambil foto dan video. Mulai sadar saat anak-anak balik dari bermain sambil tertawa happy dan mendekati tenda dengan badan penuh lumpur. Ya ampuuun, kami tidak punya air yang cukup untuk membersihkan mereka. Terpaksalah menngorbankan banyak tissue basah, tissue dan air minum untuk mereka. Susahnya, kami mesti menggunakan air minum yang sangat terbatas saat 2 hari ini kami kesusahan beli air, Colby dengan telaten membantu membersihkan anak-anak karena dia khawatir saya ngomel pada anak-anak. Colby memang sudah seperti paman yang sangat baik bagi anak-anak…

Malam ini kami makan malam di tempat yang sangat luar bias am benar-benar restoran penuh bintang. Setelah makan, Eelco dan Colby sibuk mengambil momen cantic di sekeliling kami dengan camera. Sementara saya langsung menemani anak0anak tidur (lebih tepatnya memaksa mereka tidur), karena jika tidak mereka akan terus asyik bermain ditempat indah ini hingga tengah malam.

Pagi hari kami bangun dan langsung duduk manis di tenda menikmati pemandangan yang subhanallah indahnya. Setelah makan pagi, dengan malas kami beranjak untuk menuju 1.000 buddha cave dan lanjut ke Kashgar. Tidak bisa berangkat terlalu siang, karena sulit menebak berapa banyak pos yang mesti kami lalui dan berapa lemoynya petugas di sana dalam mengambil data kami.

Lagi-lagi Dikawal Polisi…

Baru saja kami keluar dari ‘Grand Canyon’ dan berusaha mencari pom bensi untuk membeli air, tiba-tiba sebuah mobil polisi menghentikan kami tanpa alasan yang jelas. Seperti biasa, meminta semua dokumen dan bertanya banyak hal yang sulit kami jawab karena kami tidak mengerti apa yang mereka tanyakan dan meskipun kami jawab, mereka tidak mengerti apa jawaban kami. Google translate tidak berfungsi baik karena signal hampir tidak ada. Kami hanya terus bicara 1.000 buddha cave dan Kashgar.

Akhirnya mereka meminta kami mengikuti mobil mereka dan ternyata mereka mengantar kami langsung ke lokasi tsb. 1.000 buddha cave sebenarnya sebuah gua yang menyimpan banyak gambar/coretan tentang Buddha. Cave-nya sendiri terletak di atas bukit yang cukup tinggi dan sangat panas. Lumayan juga siang terik kami mesti naik 550 anak tangga. Terlebih tidak ada English speaking guide dan sulit bagi kami memahami gambar-gambar yang ada di dinding gua. Entrance fee 70 yuan per orang, namun bagi kami lumayan mahal karena mesti dikali 4. Jadinya lebih dari setengah juta rupiah untuk cave yang kurang mengesankan bagi kami. Selain itu kami tidak boleh membawa camera, sehingga tidak ada apapun yang bisa kami rekam di sana. Setelah 2 jam di sana, kami melanjutkan perjalanan menuju Kashgar, dan terkejut begitu menyadari bahwa 2 polisi tadi masih menunggu kami di depan pintu masuk. Ya ampuun, ada masalah apa sebenarnya? Kami bingung.

Polisi tsb meminta kami untuk mengikuti mobil mereka, luar biasa. Kami di escort oleh polis hingga lebih dari 90 km. Masalahnya adalah, kecepatan mobil mereka hanya 40 km/jam dan kami sudah kelaparan karena sudah lewat jauh dari jam makan siang. Kami meminta berhenti pada pak polisi dan dengan bahasa tubuh, meminta mereka untuk mencari tempat makan dan mohon kecepatan bisa dinaikkan. Mereka sepakat menaikkan kecepatan mobil hingga 70 km/jam dan dalam 30 menit setelahnya kami bisa duduk di sebuah warung makan.

Yang lucu dan tidak enak adalah saat kami makan, 2 pak polisi itu hanya makan sejenis es dongdong yang dijual di warung seberang. Kami ditawarkan untuk makan bareng, tapi mereka langsung tersipu dan mengatakan tidak boleh. Ya sudah, maaf kami makan skewer dan tumis sapi yang enak J

Setelah makan, perjalanan dilanjutkan menuju Kashgar sehingga bisa langsung masuk tol. Hingga gerbang tol, mobil polisi tsb berhenti dan meminta kami juga berhenti. Ternyata, kami diserahkan pada polisi selanjutnya yang mengawal kami hingga gerbang pos pemeriksaan berikutnya. Luar biasa, total 340 km polisi ini mengawal kami. Untungnya setelah itu, pihak polisi yang mendampingi kami mempersilakan kami lanjut jalan tanpa di escort. Rasanya luar biasa lega, kami bisa langsung ngebut sampai Kashgar.

KASHGAR

Sampai di Kashgar sudah pukul 2 dini hari, untungnya Brenda sudah menyiapkan hotel yang nyaman dan kami langsung masuk kamar… tidur. Mungkin karena kelelahan, esoknya badan saya rasanya melayang, sehingga kami putuskan untuk 2 hari ini kami akan lebih banyak istirahat, dan anak-anak belajar, karena hampir 5 hari tidak bisa belajar akibat kami terus bergerak dengan mobil. Hanya kami putuskan untuk tetap mampir ke animal market yang hanya ada seminggu sekali di Kashgar.

Ke Animal Market

Animal market ini sangat luar biasa. Semua orang dari pelosok Xinjiang datang membawa ternaknya untuk dijual atau sebaliknya, datang untuk membeli ternak. Domba, sapi, yak, kuda, semua ada di animal market. Pemandangan bapak-bapak Kashgar dengan topi khasnya tawar-menawar hingga deal sangat menarik untuk diamati. Dari pagi pukul 8, kami baru keluar dari animal market pukul 3 sore.

Old City Kashgar dan Situasi Etnis Uyghur

Saat malam kami sempatkan berjalan-jalan ke old city. Sangat bagus dan menarik karena kelihatannya baru saja dibenahi oleh pemerintah. Namun isinya kebanyakan berbagai jenis makanan. Justru rumah-rumah penduduk lokal yang menetap di old city yang sangat bagus dan menarik. 2 malam berturut-turut kami berputar-putar di gang-gang perumahan old city dan tetap happy melihat cantiknya bentuk rumah tsb.

Bagian yang memprihatinkan adalah begitu banyaknya polisi di mana-mana. Di setiap jalan akan ada 7-8 polisi yang terus mondar mandir dengan senjata dan baju anti peluru. Penduduk asli di sini mesti terus berhadapan dengan situasi yang tidak nyaman ini selama bertahun-tahun.

Bahkan untuk keluar desa mereka, mesti memperlihatkan KTP mereka dan tubuh mereka diperiksa satu per satu. Jika ternyata mereka masuk dalam etnis Uighur, maka pemeriksaan akan lebih ketat. Kelihatannya di KTP sudah tertera etnis mereka, sehingga sikap polisi terlihat sangat berbeda antara mengahadapi etnis Uighur ataupun etnis Han.

Beberapa kali kami melihat di ujung lorong perumahan, para ibu-ibu dan bapak-bapak dikumpulkan, dipaksa belajar mandarin oleh pengajar khusus. Mereka duduk bersila di atas karpet sambil menulis sementara pengajar berdiri didepannya. Saya dengat dari seorang teman bahwa sejak setahun terakhir, anak-anak di sekolah paud sudah dimulai belajar bahasa mandarin dan menghilangkan bahasa etnis, padahal dulu kebijakannya adalah di setiap sekolah mesti menggunakan 2 bahasa yaitu bahasa etnis dan bahasa mandarin.

Dari beberapa artikel yang saya baca mengenai situasi etnis Uyghur, pemerintah menekan mereka. Karena sangat takut dengan pergolakan, maka banyak penduduk etnis Uighur yang tiba-tiba menghilang dan sebagian besar dari mereka dimasukkan ke dalam re-education camp, di mana mereka dipaksa menghilangkan budaya mereka yang lama dan belajar budaya China. Mereka ditahan, dicuci otak dan bahkan mereka yang ditahan pun tidak tau kapan akan dikeluarkan atau apakah mereka akan dikeluarkan..

Banyak orangtua yang kehilangan anaknya atau sebaliknya.. anak yang terpisah dari orangtuanya kemudian dimasukkan ke dalam panti asuhan. Di panti asuhan, mereka dibesarkan dengan pola yang tidak sesuai dengan budaya Uyghur lagi. Seperti, pelan-pelan mereka ingin menghilangkan budaya Uyghur. Alasan yang selalu digunakan adalah pemerintah China khawatir mereka disusupi oleh organisasi-organisasi teroris, tapi perlakuan yang diterapkan sangat tidak manusiawi dan justru akan membuat pergolakan.

Situasi ini membuat kami semua tidak nyaman. Kami hanya terus berpikir lebih cepat keluar dari Xinjiang lebih baik. Namun Colby tetap punya masalah dengan motornya. Motornya masih belum tiba di Kashgar hingga tanggal kami mesti keluar dari Kashgar.

 

Keluar China Namun Colby Terpaksa Tertahan di China…

  • Sejak malam terakhir sebelum visa kami habis, Colby sudah sangat resah dan khawatir. Janji motornya akan tiba dalam 3 hari, sudah terlewati 1 minggu. Colby dan Brenda berusaha untuk melihat kemungkinan memperpanjang visa, namun biayanya lumayan mahal karena memperhitungkan surat2 perpanjang motor, dll. Belum lagi untuk itu membutuhkan waktu minimal 3 hari sebelum visa habis, dan kantor imigrasi yang bisa memperpanjang visanya di Kashgar sudah ditutup beberapa tahun yang lalu. Jika melakukan overstay di China, dendanya lumayan mahal selain itu di passport akan tertera overstay dan itu akan menjadi catatan buruk jika meng apply visa dinegara lain. Itupun hanya bisa overstay 3 hari, jika lebih dari itu hukumannya penjara.
  • Pagi hari di mana kami mesti keluar dari China, tidak ada pilihan lain, Colby ikut ke perbatasan. Kami didampingi guide lain yang khusus mengurus tourist keluar dari perbatasan (ini salah satu penyebab yang membuat biaya overland di China mahal). Brenda saja tidak cukup, karena mesti melewati 4x pemeriksaan, kendaraan diperiksa penuh dan dibongkar. Karenanya kami dijemput sangat pagi.
  • Saat pemeriksaan fisik mobil dilakukan, Colby menjelaskan pada Russel, guide yang mengantar kami bahwa motornya punya masalah. Namun Russel tidak terlalu perduli tentang penjelasan tsb. Baru setelah kami tiba di border, Russel benar-benar menyadari ada masalah, karena Colby terpaksa keluar tanpa motornya.
  • Setelah diskusi panjang, Russel masuk ke ruang imigrasi. Dan setelah menghitung ulang hari, menurut Russel sebenarnya kami masih punya 1 hari lagi. Tapi karena passport kami sekeluarga sudah di cap keluar, maka hanya Colby yang bisa bertahan di China. Kami mesti sudah langsung melanjutkan perjalanan ke Kyrgyzstan. Berharap dalam 1 hari ini ada keajaiban dan motor Colby bisa sampai Kashgar minimal sore hari. Dengan berat hati, kami berpisah dari Colby. Tak tega rasanya melihat kepusingan diwajahnya. Tapi tak ada pilihan bagi kami. Colby pasti bisa mengatasi masalah ini karena dia traveller berpengalaman. Colby kembali ke hotel dan dibantu Brenda mengejar perusahaan cargo agar motor mesti sampai hari ini, jika tidak dia akan menuntut perusahaan tsb atas semua beban biaya yang membengkak yang harus dia tanggung.
  • Dari batas imigrasi Xinjiang tsb, ternyata masih ada 70 km lagi hingga benar-benar kami keluar dari China dan masih ada 2 check point lagi hingga akhirnya kami benar-benar lepas dari China, karenanya kami masih terus didampingi Russel. Hingga akhirnya gerbang keluar China terpampang, kami semua berpandangan dan berpelukan. Rasanya benar-benar lepas bebas dari kerangkeng dan masuk ke dalam kemerdekaan yang sebenarnya. Kami mengucapkan terima kasih pada Russel dan menitipkan Colby mohon benar-benar dibantu. Kembali kami memandang gerbang dan mengucapkan doa, semoga penduduk Xinjiang mampu bertahan dan bersabar dalam tekanan ketidak nyamanan mereka saat ini.
  • Note :
  • Saat diperjalanan sebelum memasuki perbatasan Kyrgyzstan, WA dari Colby masuk menceritakan bahwa motornya akhirnya sampai siang itu, berharap sampai ditangannya sebelum malam sehingga dia punya cukup waktu untuk memperbaiki kopling motornya dengan kopling yang baru. WA ini membuat kami lega, karena tepat masuk sebelum kemudian akhirnya signal hilang dan kami masuk perbatasan Kyrgyzstan.

😀 Ikuti terus perjalanan kami..

Jangan lupa subscribe channel kami di Youtube -> Journey of Wonder