• Kendaraan apa yang paling cocok untuk perjalanan lintas Negara selama 3 – 4 tahun ?
  • Diskusi tentang hal ini memakan waktu yang sangat panjang dan menuai perdebatan lama, kadang hingga perang dingin selama beberapa hari 😀
  • Pemilihan jenis kendaraan yang cocok tentunya sangat berbeda2 bagi setiap pasangan/keluarga. Jumlah anggota keluarga, gaya hidup, rute yang akan dilalui, dll nya merupakan point-point yang harus dipertimbangkan dengan matang.
  • Dalam hal keputusan kami…., pertimbangan ditambahkan dengan terbatasnya pilihan bagi kami akibat aturan/rule tentang campervan/RV (recreational vehicle) di Indonesia belum ada. Namun di awal perdebatan kami, hal tsb belum benar2 kami sadari. Kami mengetahui namun belum benar2 sadar bahwa hal tsb berdampak besar bagi keputusan jenis kendaraan yang kami pilih.
  • Saat awal, karena menyadari bahwa kami membutuhkan sebuah rumah berjalan yang bisa mengangkut sejumlah perlengkapan untuk aktivitas selama perjalanan, tentunya kami bermimpi tentang sebuah campervan/RV yang tidak terlalu keci agar nyaman bagi seluruh anggota keluarga, namun juga tidak terlalu besar supaya mudah bagi kami saat melewati jalan-jalan yang kecil dan sulit.
  • Setelah browsing lama, sebenarnya secara pribadi Iyel lebih memilih sebuah truk ukuran tanggung yang bagian belakangnya bisa di modifikasi untuk kamar, dapur, living room yang nyaman bagi semua.

 

  • Tapi tentunya mimpi ini langsung ditolak oleh Eelco. Ukuran mobil seperti gambar tsb bukanlah ukuran truk tanggung 😀
  • Untuk mengendarai membutuhkan latihan ekstra. Meskipun kami sepakat untuk latihan ekstra, namun nantinya akan banyak masalah dijalan jika mobil mesti melewati rute2 dengan jalan yg sempit dan kecil. Bahan bakar juga membutuhkan jauh lebih banyak dan boros. Eelco terus mengingatkan…., jika 1 ban mesti diganti maka itu ukuran ban sama dengan tinggi kami, bayangkan beratnya ban tsb. Ini cukup membuat kami langsung berganti pilihan.
  • Pilihan kedua adalah campervan yang 4×4. Ini karena kami pasti memilih rute yang menarik dan eksotik. Pilihan ini membuat kami begitu antusias. Beberapa minggu kami habiskan untuk diskusi bentuk bagian dalam campervan agar sesuai dengan kebutuhan kami.

  • Selama beberapa minggu setelahnya kami mulai menghitung berapa luasan bak belakang mobil yang kami butuhkan untuk bisa kami bangun menjadi campervan, mempelajari tentang rancang bangun campervan serta mulai berburu sejumlah pilihan mobil pick up.
  • Pilihan kami jatuh pada hilux atau triton, namun luasan areal yg bisa dibangun ternyata sangat terbatas, banyak kenyamanan yang harus di kurangi.
  • Gambar2 tersebut kami bawa pada sejumlah karoseri. Hampir semua karoseri menolak. Asumsi kami karena memang membuatnya rumit dan menghabiskan banyak waktu. Bagi mereka akan lebih rugi. Ada 1 karoseri yang bersedia membangun campervan. Kami pun intensif berdiskusi dengan pemilik karoseri kecil tsb. Namun setelah menghabiskan waktu lebih dari 1 minggu, kami menyadari bahwa karoseri tsb terlalu kecil dan kemampuannya sangat terbatas. Jika tetap kami lanjutkan pasti hasilnya tidak akan bagus. Karena untuk membuat campervan membutuhkan kemampuan membuat rangka yang bagus dan kuat serta bisa melakukan las alumunium, supaya beban mobil tidak terlalu berat. So…., mesti cari karoseri lainnya.
  • Dapat karoseri lainnya yang bersedia membangun, namun tidak bersedia mengurus izin. Jadi izin rancang bangun mesti kami sedniri yang urus. Bagi kami tidak masalah, selama ada yang membantu membangun campervan sesuai mimpi kami.
  • Setelahnya kami baru sadar bahwa memang ternyata untuk pengurusan izin laik jalan sangat rumit. Rancangan gambar mesti dibuat sangat presisi dan digambar oleh orang yang biasa menggambar untuk itu. Biasanya mesti ada supervise dari pihak dephub. Itu membutuhkan waktu yang cukup lama. Paling cepat 3 bulan. Dan setelah kami langsung berdiskusi dengan pihak Dephub, kemungkinan besar gambar kami tsb punakan membutuhkan waktu lama untuk penggondokan karena peraturan dan rule tentang mobil campervan belum ada di Indonesia. Bentuk campervan dimana adanya ruangan diatas areal cabin tidak bisa disetujui. Jika disetujui pun mungkin hanya beberapa cm sehingga tidak cukup/muat untuk tempat tidur.
  • Sampai titik ini kami menjadi lumayan frustasi, karena sudah cukup banyak waktu yang terbuang, sementara waktu terus berjalan. Waktu keberangkatan hanya tinggal 2 bulan lagi. Pilihan/alternatif lain sudah mesti diambil.
  • Pilihan lainnya adalah dengan trailer/caravan kecil yang bisa untuk meletakkan banyak barang dan bisa untuk tidur saat dibuka (pop up)
  • Namun ide ini hanya bertahan selama 1 minggu. Banyak pertimbangan negative yang membuat kami memutuskan alternatif ini tidak cocok. Pertama karena rute yang kami lalui banyak yang tidak sesuai jika kami menarik trailer. Akan banyak masalah yang kami hadapi sepanjang jalan jika trailer stuck akibat jalan yang jelek, berlumpur, berbatu atau tanjakan/turunan curam. Selain itu, di Indonesia baru satu tempat yang membuat trailer seperti ini, sudah kami coba dan sangat berat bebannya karena jenis bahan/material yg digunakan. Ini pun masih belum sepenuhnya legal di Indonesia. So… mesti ada alternatif lain.
  • Ditengah keputus asaan, pilihan akhirnya jatuh pada mobil yang biasa kami gunakan sehari-hari selama ini. Si Capuccino. Kami menyebutnya capuccino karena mobil putih ini langsung berubah menjadi warna capuccino setelah melewati jalur perjalanan yang kami sukai.
  • Capuccino adalah pajero seri Dakar 4×4 yang cukup tangguh. Pilihan ini yang paling masuk akal dengan terbatasnya tenggat waktu yang sudah kami tentukan untuk mulai jalan. Tapi tentunya ada sejumlah penyesuaian yang harus kami lakukan. Karena mobil ini relative sangat kecil untuk perjalanan panjang. Kami pikir untuk awal perjalanan yang banyak sekali rute/jalur yang membutuhkan mobil 4×4 misalnya di Pamir Highway, di laos, Africa, masih bisa kami pakai Capuccino. Setelahnya bagitu kami masuk eropa, kami bisa berganti mobil dengan campervan atau jenis RV lainnya.
  • Sejumlah modifikasi yang kami lakukan untuk Capuccino antara lain, mengganti jok belakang dengan rack untuk meletakkan perlengkapan masak dan baju. Meletakkan rooftop tent diatas dan menambah rack besi diatas untuk meletakkan peti berisikan perlengkapan kegiatan (perlengkapan snorkeling, jacket musim dingn, tenda living room, meja, kursi, dll) serta untuk meletakkan jerigen untuk stock fuel dan air.